Posted by: S Setiawan | Sabtu, Juni 9, 2007

MUSE - Showbiz

Controlling my feelings for too long
Controlling my feelings for too long
Controlling my feelings far too long
Controlling my feelings far too long
Forcing our darkest souls to unfold
Forcing our darkest souls to unfold
And pushing us into self destruction
And pushing us into self destruction

They make me, make me dream your dreams
They make me, make me scream your screams

Trying to please you far too long
Trying to please you far too long
Visions of greed you wallow
Visions of greed you wallow
Visions of greed you wallow
Visions of greed you wallow

They make me, make me dream your dreams
They make me, make me scream your screams

Controlling my feelings far too long
Controlling our feelings far too long
Forcing our darkest souls to unfold
Forcing our darkest souls to unfold
And pushing us into self destruction
And pushing us into self destruction

They make me, make me dream your dreams
They make me, make me scream your screams

PS: Untuk para tetangga. Keparat kaleyan! Jangan ngetes kesabaran gw deh! :-w Err, Ton, lu ngga termasuk kok *pats tetangga* :D

Controlling my feelings far too long
Controlling our feelings far too long
Forcing our darkest souls to unfold
Forcing our darkest souls to unfold
And pushing us into self destruction
And pushing us into self destruction

Posted by: S Setiawan | Selasa, Mei 29, 2007

Heart-Shaped Box

Saat ini saya berharap bahwa saya bisa membeli kotak tempat Davy Jones menyimpan hatinya. Berapapun harganya. Untuk dia yang sekarang duduk di samping saya.

Agar ia tidak perlu menangis lagi.

Agar ia tidak perlu merasakan sakit lagi.

Posted by: S Setiawan | Selasa, Mei 22, 2007

Blogging Lagi

Hore, bisa blogging lagi! :D

..tapi mobile. Nistanya - -;

Posted by: S Setiawan | Jumat, Mei 4, 2007

JOHN MAYER - Not Myself

Suppose I said
I am on my best behavior
And there are times
I lose my worried mind

Would you want me when I’m not myself?
Wait it out while I am someone else?

Suppose I said
Colors change for no good reason
And words will go
From poetry to prose

Would you want me when I’m not myself?
Wait it out while I am someone else?

And I, in time, will come around
I always do for you

Suppose I said..
You’re my saving grace

Would you want me when I’m not myself?
Wait it out while I’m someone else?

Would you want me when I’m not myself?
Wait it out while I’m someone else?

PS: Tiba-tiba ingat Spider-Man 2. Setelah kehilangan kekuatannya, Peter berkata pada MJ, “I’m different. Punch me, I bleed.” And I know how it felt now. I lost it. I’ve taken a punch where it hurts the most, where it bleeds the most. It has made me weak. And indeed it has made me different.

I wish I could deal with this like you do. I wish I could be the person I used to be. But that’s too much to ask right now. You’d just have to deal with it, kiddo, before it starts consuming you.

Now..

Would you want me when I’m not myself?
Wait it out while I’m someone else?

Posted by: S Setiawan | Jumat, Mei 4, 2007

Just, Don’t..

Don’t cry other people’s tears. Don’t speak other people’s mind. Don’t carry other people’s burden. Don’t burn on other people’s wrath.

You deserve better than this, kid. I think you do.

Posted by: S Setiawan | Kamis, Mei 3, 2007

There’s Something About Spider-Man 3

..that I don’t like :P

Saya terdengar kecewa? Memang.

Sam Raimi telah menghasikan film pertama dan kedua dari trilogi ini dengan baik. Spider-Man dan Spider-Man 2 menjadi film yang menurut saya sukses, baik diatas scorecard ataupun di box-office chart. Yang jelas keduanya berhasil menjadi film memorable yang tetap enak ditonton meski sudah pernah dilihat berkali-kali.

Now, Spider-Man 3?

WARNING: Saya akan mencoba membahasnya dengan meminimalisasi spoiler, ..tapi bukan berarti spoiler-nya tidak ada. Manusia mudah alpa, but watch me trying. Jadi, yang minat baca, read on :P

Kenapa saya tidak sreg dengan penutup trilogi ini:

- Terlalu banyak plot. Beberapa sebenarnya tidak perlu. Kita tahu ada 3 villain yang ditampilkan disini, yaitu Green Goblin Jr (Harry Osborne), Sand Man (Flint Marko), dan Venom (Eddie Brock). Saat mendengarnya pertama kali, saya sudah mengernyitkan dahi. Bagaimana caranya Raimi bisa memaksimalisasi durasi waktu dengan 3 villain, 1 superhero dengan kehidupan rumit, dan plot yang pasti banyak dan overlapping? Raimi bisa melakukannya, hebatnya, tapi jelas tidak dengan sempurna. Sorry, pal. But sometimes too much is too much.
- Gwen Stacy. Penting? Atau tidak penting? Kelihatannya signifikan untuk plot yang ada saat ini, tapi kok saya merasa si cantik ini cuman dijadikan pemanis layar saja ya? Kalau tidak ada Gwen, plot jelas akan berubah banyak, tetapi itu bisa dimanfaatkan tim penulis untuk membuat cerita yang lebih terfokus. IMHO.
- Drama. Raimi jelas tidak sepiawai Christopher Nolan (sutradara Batman Begins), semisal, dalam penggarapan film yang berkisah tentang pergulatan batin. Beberapa kali akting para pemainnya terasa tidak pas, kurang dalam. Dan Peter? Hanya segitu sajakah? Padahal eksplorasi yang bisa dilakukan terhadap Parker dan alter egonya, si manusia laba-laba, bisa dilakukan lebih dalam. Adegan perubahan yang ditunjukkan setelah symbiote melekat padanya terasa sangat cliche. We’ve seen that kinda scene before, Sam :P
- Trailer vs movie. Trailer-nya menurut saya lebih keren dari filmnya. Kenapa? Karena saat itu ekspetasi saya tinggi, dan trailer-nya seakan berjanji akan menampilkan sisi lain Peter Parker yang kelam. Saya agak kecewa, karena dengan terlalu banyaknya plot, flashback, dan drama yang kurang pas tempatnya, saya tidak mendapatkan hal itu.
- End scene. So, that was the finish? Uh, okay.. *sigh*

Even so, Spidey pasti akan meraup uang berlimpah dan duduk berlama-lama di puncak box-office. Antisipasi terhadap film ini memang luar biasa!

So, give us the good news! Okay, here you go:

- Spesial efek sudah mengalami peningkatan, terlihat jauh lebih smooth dan tidak sekaku jilid satu dan duanya. Banyak eye candy.
- Aksi yang ditampilkan cukup mengasyikkan. Adegan laganya sudah oke. It’s action packed, and you guys will love it for that. Cause I do :D
- Humor. Selera humor Spidey yang biasa ditampilkan disini. Beberapa humor memang mungkin terasa agak maksa. Tapi ada beberapa yang cukup segar dan original. I just LOVE that buzzer on JJ’s desk! =))
- Moral of the story. Tidak bisa menggantikan pelajaran PPKn, tapi memang niatnya cukup bagus. This movie’s got the heart. Bring your kids along.

So, that’s it? Well, I think it preety much sums it up. Yang jelas, film ini tetap harus ditonton. Ya, masa sih enggak? Kecuali Anda adalah kaum pembenci film mainstream dan tidak merasa rugi kalau tidak nonton trilogi ini sampai selesai, jelas :P Tidak setuju dengan saya? Ya nggak papa, saya kan cuman komen. Hihihihi..

Enjoy the movie :D

Posted by: S Setiawan | Rabu, Mei 2, 2007

Forza Milan! Forza Italia!

Tidak hanya sekadar membalas kekalahan mereka di leg pertama, Milan juga membalaskan dendam saudara senegara mereka, AS Roma, dan juga memastikan satu tiket ke final Liga Champions 2007 dengan menggulung Manchester United, 3-0.

Umpan yang dilepaskan ke arah Alberto Gilardino yang tidak terkawal praktis membuat pertandingan seakan usai bagi kubu MU. Edwin Van Der Sar gagal menghalang bola yang dilesakkan Gilardino ke gawangnya. 3-0 di menit ke 78. Benar-benar luar biasa perjuangan Milan.

Sejak menit awal, Milan sudah tampak mendominasi permainan dengan memaksa MU memainkan tempo yang lambat. Bola lebih banyak bergulir di kaki pemain MU, tetapi Milan dapat memanfaatkan kesempatan yang didapatnya dengan lebih efektif. Kesuksesan Milan banyak didukung oleh kehadiran Kaka. Pemain asal Brazil ini menyuntik semangat Milan dengan menyumbangkan gol pembuka bagi rossoneri di menit ke 11 dan menyamakan agregat menjadi 3-3.

MU tidak banyak melakukan pressing yang berbahaya karena barisan pertahanan Milan selalu siaga menjaga gawang yang dikawal oleh Dida. Bahkan ada beberapa pemain yang sengaja mendapat pengawalan khusus, seperti Cristiano Ronaldo yang sepanjang pertandingan nampak ditempel ketat oleh Gattuso. Keberhasilan Milan mengatur tempo pertandingan menekan permainan agresif yang biasa ditampilkan tim Inggris seperti MU, dan hal itu tampaknya sangat efektif. Gol kedua diciptakan oleh Seedorf di menit ke 30, dan hal itu semakin mempersulit upaya The Red Devils untuk menggapai tiket ke final.

Di babak kedua, MU mulai lebih banyak melakukan pressing dan sempat beberapa kali merepotkan barisan pertahanan Milan, meski serangan-serangan yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Pergantian pemain yang dilakukan Ferguson pun tidak mampu memecahkan kebuntuan timnya.

Cukup banyak benturan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam dua babak, tetapi, sepertinya wasit terlihat lebih cenderung berpihak ke Milan. Beberapa pelanggaran yang nampak jelas tidak mendapatkan teguran. Hal ini sangat disayangkan.

Gol ketiga Milan memantapkan posisi mereka dengan agregat 5-3. Publik di San Siro bersorak sorai menyambut kemenangan tim mereka. MU terlihat jelas kecewa karena kekalahan dengan jumlah gol yang cukup besar ini sudah mematahkan peluang mereka dan menghanguskan kemungkinan terulangnya all-England final.

Milan akan bertemu Liverpool di Athena dan memainkan partai nostalgia final Liga Champions 2005. Mari kita tunggu di 23 Mei mendatang.

Forza Milan! Forza Italia! :D

PS: Maap kalo ada fakta yang salah, soalnya saya bukan ahli sepakbola :P Oiya, tengs Milan karena sudah membalaskan dendam Roma! MAKAN-MAKAN! :D

PPS: Hore, kita ke final, Nuz! *peluk-peluk* \:D/

Posted by: S Setiawan | Kamis, April 26, 2007

Jakarta. Kemarin Pagi.

Beberapa ratus kilometer dari sana, saya melihatnya terduduk di kamarnya yang suram, menitikkan air mata. Setelah itu, untuk pertama kalinya, saya baru memahami apa yang kami bagi berdua.

Kalau sakit yang kurasakan dapat mengurangi beban yang dipikulnya sendirian, maka jadikanlah demikian, Tuhan.

- Jakarta, keesokan harinya, dini hari.

Posted by: S Setiawan | Senin, April 23, 2007

Johari Window

Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.

Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.

- Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.  (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others)
- Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.  (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self)
- Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.  (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others)
- Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.  (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)

Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.

Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.

Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.

Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita:

- Threat tends to decrease awareness; mutual trust tends to increase awareness
- Forced awareness (exposure) is undesirable and usually innefective
- Interpersonal learning means a change has taken place so that Quadrant 1 is larger, and one or more of the other quadrants has grown smaller
- Sensitivity means appreciating the covert aspects of behavior, in Quadrants 2, 3, and 4 and respecting the desire of others to keep them so (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969)

(diterjemahkan bebas dari Ruben and Stewart, Communication and Human Behavior, 4th ed. Allyn & Bacon, MA: 1998, p. 240-41 dan Johari Window di Wikipedia)

PS: Terjemahan ini dibuat untuk mereka-mereka yang sepertinya selalu nyangkut di blog ini dengan keyword Johari Window atau Jendela Johari. Semoga ini bisa membantu. Kalau ada yang kurang, sila tinggalkan komentar dan saran di commentbox ini. Thanks.

Posted by: S Setiawan | Senin, April 23, 2007

The Trash Can Talk(s)

Entah kenapa, saya sering sekali menghadapi skenario begini: saya sedang santai, tidak ada kerjaan, atau sedang sekadar menikmati hidup dengan leyeh-leyeh. Tiba-tiba telepon saya berdering, pintu saya diketuk, atau pundak saya ditepuk. Kemudian, dengan brutalnya, teman saya tiba-tiba curhat. Tanpa meminta persetujuan saja, tanpa peduli sebenarnya saya mau dengar ceritanya atau tidak.  Mungkin beberapa dari Anda pernah punya nasib serupa. Alih-alih dilihat sebagai manusia, malah dianggap sebagai keranjang sampah. Keranjang sampah? Kok jelek sekali sebutannya? :P

Seorang teman saya pernah berkata, saya adalah tempat sampah terbaik yang ia pernah punya. Ya, tempat sampah. Tempat untuk membuang barang-barang yang tidak penting, tidak dibutuhkan, atau tidak disukai. Tempat sampah dengan tingkat tertinggi, disebut oleh orang-orang di sekitarnya sebagai psikolog amatir. Dicari pria, dibutuhkan wanita ;) *ditimpuks* Yang apes, kalau Anda benar-benar hanya jadi tempat sampah. Setelah capek dicurhati, lalu ditinggal pergi. Boro-boro dibeliin es teh..

Tapi apakah jadi kantong curhat di tingkat bawah itu artinya keberadaan ada seperti tombol kepslok saja? Ada bagus, tak ada juga tidak apa-apa? Ya, terserah(tm) Anda sih, tergantung sudut pandangnya :P

Yang jelas, tanpa reward seperti dibelikan nasi goreng dua porsi atau ucapan terimakasih muach muach :-*(tm), sebenarnya melalui kemampuan orang lain untuk bercerita kepada Anda, keranjang-keranjang sampah di luar sana, mereka sudah menunjukkan apresiasinya terhadap Anda.

Jelas, tidak semua orang bisa jadi tempat sampah yang baik.

Yang jelas, urusan curhat-curhatan, ungkapan diri, atau istilah kerennya, self-disclosure, punya tempat tersendiri yang spesial dalam urusan komunikasi.

Lalu, kenapa jadi tempat sampah justru membuktikan bahwa Anda bukan sekadar tempat untuk buang-buang yang tidak penting? Ya, jelas, karena sampah itu berasal dari makhluk kompleks yang bernama manusia, dimana, semua sampah bukan benar-benar sampah (ya iyalah, kalau tidak, mana mungkin psikolog rela menyelam timbul tenggelam dalam sampahan manusia, seperti belajar soal parapraxis, semisal? *ditimpuk Freud* :P). Karena menurut riset, disclosure dipicu oleh hal-hal ini:

- Disclosure increases with increased intimacy
- Disclosure increases when rewarded
- Disclosure increases with the need to reduce uncertainty in a relationship
- Disclosure tends to be reciprocated
- Women tends to disclose more than men
- Women disclose more to individuals they like
- Men disclose more to individuals they trust
- Disclosure is regulated by rules of appropriateness
- Attraction is related to positive disclosures but not to negative disclosure
- Negative disclosure occurs with greater frequency in highly intimate settings than in less intimate ones
- Relationship satisfaction is greatest when there is moderate–rather than a great deal or very little–disclosure.

(*kutip sajalah* Based on summary provided by Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Third ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 1989), p. 161, adapted from Shirley J. Gilbert, “Empirical and Theoretical Extensions of Self-Disclosure,” in Explorations in Interpersonal Communication. Ed. by Gerald R. Miller (Beverly Hills: Sage, 1976), pp. 197-216) -tentu saja, dikutip tanpa izin :P

Tidak semuanya klop dengan konteks yang Anda alami, tentu. Tapi dari sekelumit gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa disclosure, pengungkapan, bukanlah hal yang main-main. Ada poin-poin seperti ketertarikan, rasa percaya, imbalan, tingkat hubungan, dan lain-lainnya. Anda perlu memenuhi beberapa kriteria untuk dapat menjadi tempat sampah yang pantas untuk orang lain. Apalagi, Anda bisa mengetahui hal-hal paling personal dari orang lain dengan melihat apa isi dari tempat sampahnya. Knowledge is power, lho (asal jangan tiru-tiru Casanova di Kiss The Girls saja :P) Betapapun tidak enaknya jadi tempat penampung keluh kesah, ternyata penghargaannya cukup besar juga, meski tidak selalu terlihat.

*5:17 AM, masih tetap menunggu kantuk sialan yang tidak mau datang juga*

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori