Star Wars Episode III: The Saga Is Complete

8 Jun

        Lampu dimatikan. Hening. Fade in, berlatar langit penuh bintang, muncullah narasi pembuka. Diiringi salah satu opening score paling melegenda dalam sejarah perfilman dunia. ‘War! The Republic is crumbling under attacks by the ruthless Sith Lord, Count Dooku. There are heroes on both sides. Evil is everywhere.’ Diputarnya Star Wars Episode III: Revenge of The Sith, resmi membuka pesta penutup saga berusia 28 tahun itu.

        Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, demam Star Wars kembali melanda dunia. Sejak 19 Mei yang lalu, para penikmat film berkumpul untuk menjadi saksi sejarah. Kisah hikayat sains-fiksi ciptaan George Lucas itu akhirnya selesai sudah. Tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi penggemarnya untuk tertular dalam perilaku kolektif yang sama. Perilaku yang didefinisikan oleh Light, Keller, and Calhoun (1989) sebagai tindakan yang dilakukan bersama oleh sejumlah orang. Tidak bersifat rutin. Dan merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu. Dalam hal ini, episode penutup trilogi prekuel terbesar dunia yang telah dinanti lebih dari dua dasawarsa lamanya.

        Banyak hal menarik yang dipicu oleh pemutaran film ini. Ada penggemarnya yang rela berkemah selama beberapa bulan, demi mendapatkan tiket pertunjukkan perdananya. Atau gerombolan yang berbondong-bondong datang dengan atribut penggemar setia. Dengan kaos, topi, dan replika lightsaber. Atau kalau ingin lebih ekstrim lagi, memakai ‘helm’ Darth Vader yang terkenal itu.

        Dalam Episode III, George Lucas, sang sutradara merangkap penulis cerita, telah bekerja keras untuk memuaskan penontonnya. Ia mempresentasikan kepingan terakhir dan penyambung rantai cerita yang telah dibentangkan sejak rilis perdana Episode IV di tahun 1977. Tidak ada satu pun sutradara yang mampu menguraikan alur kisah selama 15 jam lebih secara berkesinambungan selain dirinya. Dan Lucas terbukti mampu melakukan semuanya.

        Trilogi pertama (Episode IV, V, VI) menceritakan sepak terjang Luke Skywalker bersama Leia Organa dan Han Solo, yang berjuang bersama pasukan Rebel Alliance. Luke yang hanya anak petani biasa, menemukan dirinya terbawa dalam pertikaian menegangkan antara pasukan pemberontak dan Galactic Empire. Kekaisaran yang kejam ini dipimpin oleh Emperor Palpatine dan muridnya, Darth Vader.

        Dalam petualangannya, Luke berhasil menjadi ksatria Jedi dan mengetahui bahwa Leia adalah saudara kembarnya. Cerita ditutup dengan kejatuhan Galactic Empire dan kematian Emperor Palpatine. Bagian terpenting dari trilogi ini adalah kembalinya Darth Vader pada jalan yang benar, setelah ia memberi tahu Luke bahwa ia adalah ayah kandungnya.

        Trilogi kedua (Episode I, II, III) menceritakan kisah hidup Anakin Skywalker sejak kecil sampai beralih pada kegelapan dan menjadi Darth Vader. Anakin Skywalker muda hanyalah seorang budak di Planet Tatooine, sampai ia bertemu Obi-Wan Kenobi yang mengajarinya menjadi ksatria Jedi. Ia melanggar sumpahnya untuk hidup selibat dan menikahi Senator Padme Amidala secara rahasia. Episode III menutupnya dengan menceritakan konflik yang dialami Anakin sehingga dirinya berubah menjadi jahat. Dalam episode ini juga diceritakan kelahiran Luke dan Leia, kematian Padme, sampai diproklamirkannya Galactic Empire.

        Star Wars telah memposisikan dirinya sebagai salah satu contoh kolaborasi terbaik dari aspek ekonomi dan budaya populer dalam bentuk film. Tidak hanya berhasil menjadi dwi-trilogi terbesar sepanjang masa, keberadaannya pun telah menjadi kultus bagi banyak penggemarnya.

        Tidak kurang dari 3,5 milyar dollar (kurang lebih 30 trilyun rupiah) telah dituai oleh film ini dari kelima serinya. Angka itu belum termasuk penjualan DVD, video games, dan merchandise, yang diperkirakan telah memperkaya pundi-pundi Lucas sebanyak sembilan milyar dollar. Sebuah prestasi yang membuat iri film maker lain. Belum ditambah penghasilan seri terakhirnya yang mungkin akan mencetak angka yang jauh lebih fantastis dari semua seri pendahulunya.

        Namun, diluar semua catatan pendapatan tadi, Star Wars masih patut dikritik keras. Star Wars dinilai banyak melupakan faktor manusia dalam penceritaannya. Film ini lebih memilih untuk mengeksplorasi dunia perang bintangnya dengan pendekatan teknologi canggih yang hanya berfungsi sebagai eye candy.

        Akibatnya adalah sebuah cerita dengan drama yang terasa kaku dan serba tanggung. Banyak fans Star Wars yang tentu masih ingat dengan buruknya penceritaan dalam Episode II. Seri yang harusnya mengeksplorasi emosi dan asmara antara Skywalker dan Amidala menjadi ‘lucu’ di tangan Lucas. Dialog yang kering dan adegan-adegan yang terasa dipaksakan di Planet Naboo, membuat salah satu kritikus di sebuah majalah film Indonesia menganugerahinya nama ‘Bollywood Star Wars’.

        Star Wars juga membuat banyak penonton hanya sekedar mengkonsumsi citra-citra dan tanda dalam film. Hal itu menghilangkan makna atau nilai-nilai lebih dalam yang mungkin disimbolisasikan. Kita menjadi mengabaikan pertanyaan tentang nilai dan kegunaan. Sebagai akibatnya, sifat-sifat seperti kelebihan artistik, integritas, keseriusan, autensitas, realisme, kedalaman intelektual dan narasi yang kuat cenderung diabaikan (Strinati, 2003).

        Ini membuatnya menjadi sebuah contoh kajian yang menarik. Tidak hanya untuik industri perfilman Amerika yang sudah established, tapi juga di Indonesia. Para pembuat film harus cukup tanggap untuk membangun fundamen yang kuat dan berkualitas bagi produksi film di masa depan. Dengan tidak menganak-tirikan sisi ekonomi ataupun seni, sebaiknya keduanya dapat berjalan harmonis bersama. Jangan lagi industri film porak-poranda hanya karena pembuatnya lebih mementingkan satu sisi dari yang lain. Karena hakikat film yang sejati adalah sajian yang bernilai seni dan mampu menghibur penikmatnya.

 

PS: Kembali, artikel tak penting. Bikinan dari jaman prasejarah pula.. Iseng, karena tadi buka-buka folder lama untuk Artikel Opini. Lucu juga untuk bahan perbandingan (meski setelah dibandingkan, gaya nulis aye begitu-gitu juga..). Maaphkan, namanya juga mahasiswa yang tiba-tiba saja nyangsang di jurusan calon-calon pemburu berita (belum termasuk pembuat-(buat) berita.. *toss sama kru Secara* XD) Kalo diingat-ingat, pas TPAO dulu, kayaknya aye yang tulisannya paling jelek, dan memang paling jelek, saya sadar sih.. :p Tapi, entah kenapa, bisa mengangkat pena dan terus menulis saja sudah jadi kebanggaan tersendiri. Terutama karena, duduk bersama mahasiswa-mahasiswa yang jago nulis, dan juga duduk di depan Pak Ed Zoelverdi (hai, Pak, makasih nilai A(jaib)-nya ya..) itu butuh keberanian tersendiri. And sometimes, we need to push ourself harder. Two blocks at a time. And I survived. Kalo nggak begitu, mungkin sampai sekarang, gelar mahasiswa Komunikasi Massa itu cuman gelar saja, tanpa embel-embel keahlian apa-apa.. :p

 

Jangan masuk KomMas kalo ndak mau latihan nulis sampai babak belur.. :p

 

*ditimpuks karena curhat-tak-penting*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: