[Movie Review] Kinsey

15 Jun

KINSEY

Directed by Bill Condon

Cast : Liam Neeson, Laura Linney, Peter Skarsgaard

 

Story : Film ini menceritakan tentang biografi Professor Alfred Kinsey. Professor zoologi yang dipanggil dengan nama akrab ‘Prock’ ini dibesarkan di keluarga Katolik yang konservatif. Masa kecilnya dihabiskan dengan mengamati alam sekitarnya, dimana ia menjadi peka terhadap kehidupan alam. Hal ini menumbuhkan minatnya yang besar akan biologi. Tetapi, demi mengikuti keinginan orangtuanya, ia mengubur hasratnya dan banting setir untuk belajar menjadi insinyur mesin. Di tengah jalan, Prock yang sudah tidak tahan dengan tekanan ayahnya memutuskan untuk keluar dari rumah dan mengikuti kata hatinya untuk mempelajari biologi.

Prock bertemu dengan Mac, calon istrinya, di universitas. Mereka menjadi dekat karena ketertarikan mereka yang sama akan serangga, bidang yang saat itu dikaji oleh Prock. Tidak lama mereka memutuskan untuk menikah.

Awal ketertarikan Prock mengenai studi akan seks dipicu oleh rasa concern yang dimilikinya, bahwa banyak sekali orang yang tidak mengerti akan seks. Termasuk dirinya sendiri. Saat itu, pola kehidupan yang tertutup dan konservatif menimbulkan banyak mitos-mitos yang salah tentang seks. Hal itu membuat Prock beralih dari ahli serangga menjadi ahli seks.

Ia memutuskan untuk melakukan penelitian mengenai perilaku seks orang-orang di Amerika Serikat. Isi bukunya yang jujur dan mengejutkan membuat banyak pihak merasa tidak nyaman dan mengecamnya habis-habisan.

Centerpoint dalam film ini adalah jatuh-bangunnya Professor Kinsey dalam upayanya mengilmiahkan seks di masa dimana hal itu dianggap tabu untuk dibicarakan.

 

Review : Sebuah film yang bertutur dengan cerdas mengenai seks. Penghampiran masalahnya benar-benar menarik. Meski tidak diceritakan dengan vulgar, namun bahasa dan visualisasi yang benar-benar gamblang akan seks dalam keseharian kehidupan manusia bisa menyentil mereka-mereka yang sensitif terhadap isu ini.

Isi film ini cukup membuat saya mengangkat alis. Kita tahu hal-hal yang ada di film ini sebagian besar adalah fakta, tapi mengetahui bahwa perilaku seks di Amerika pada era tersebut (1930-an ya?) hampir sama dengan apa yang dapat kita temui sekarang, dalam skala lebih besar tentu, cukup membuat saya cengar-cengir. Padahal saat itu kehidupan disana masih begitu kental dengan nuansa agama dan moral yang dijunjung tinggi.

Sangat menarik melihat bagaimana Prock yang kemudian melihat seks semata-mata dari sisi ilmiah dan fisologis saja kemudian melupakan hal-hal lain yang mengelilinginya, seperti moral, agama, perasaan, lingkungan sosial dan hal lainnya. Ia dan penelitiannya yang mempelajari seks secara steril digambarkan berperang dengan usaha lingkungannya untuk mati-matian mengatasnamakan moralitas untuk menutupi kembali isu tabu yang telah diangkat Prock kepada massa saat itu.

Karena cara pandangnya itu, Prock sempat ‘terpeleset’ dan tidur dengan asistennya yang bernama Martin (Peter Skarsgaard). Hal itu sempat mengguncangkan pernikahannya dengan Mac. Tapi kemudian ia menyadari bahwa memang ada sesuatu yang lain, karena seks bukan hanya sebuah kegiatan fisik saja, dan ia menyadari begitu kentalnya emosi bisa masuk kesana. Because sex is not something, it’s everything.

Akting Liam Neeson, seperti biasa, baik sekali. Meski karena yang main aktor sekaliber Liam, saya bukan merasa seperti menonton Professor Kinsey, tapi seperti menonton Professor Neeson. Linney main dengan bagus, meski masih kalah dari Peter Skarsgaard yang begitu bersinar di awal sampai tigaperempat film. Oh ya, spoiler, di film ini ada adegan ciuman antara Neeson dan Skarsgaard yang membuat saya berkata, “Pete, why Liam? You can kiss anyone, spare us this one..” *fans Liam Neeson* Hehehe.. *teringat adegan Surya ‘vs’ Tora*

Alurnya tertata dengan rapi. Narasinya memikat dengan dialog-dialog cerdas. Ending-nya kurang enak karena kita tidak benar-benar diberi ending, tapi lebih ke perhentian sejenak dalam proses panjang yang masih harus dialami Prock dan studi terhadap seks yang dipeloporinya. Bukan film yang patut dilewatkan anda yang menggemari drama berbobot. Sayang tidak menang Oscar.

Story : 7

Cast : 8

Ending : 6

Overall : 7 1/2

Wikipedia on KINSEY.

 

PS: Buat Abang, sampel review film, by me.. ^^ Ayo, nulis lagi!😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: