Dokter? Atau Farmasis?

17 Jun

Kalau diminta memilih: sumber mana yang lebih anda percayai menyangkut informasi mengenai kesehatan? Dokter? Atau farmasis? Sebagian besar orang akan memilih dokter. Tapi saya akan memilih farmasis. Mungkin ini keputusan yang bias, karena kakak saya notabene adalah seorang farmasis, dan sedikit banyak, saya pasti sudah termakan oleh propaganda-nya, bahwa farmasis memang setara dengan dokter (bahkan terkadang justru lebih banyak tahu). Tapi, itu sih katanya..😛 (tolong, para dokter-dokter diluar sana, jangan bunuh saya😀 )

Saat melirik dashboard, saya melihat blog ini. Ditengah jarang dan mahalnya informasi soal kesehatan, ada juga sekumpulan mahasiswa farmasi yang mau berbagi informasi (umumnya, mahasiswa farmasi enggan menulis). Kebanyakan informasi yang ditulis memang sifatnya masih general, dan kalaupun ada yang baru atau diluar pola pemberitaan artikel kesehatan umumnya (yang isinya kebanyakan cuman tips-tips biasa), saya sudah tau isinya😛 (apa gunanya punya kakak seorang farmasis, eh?). Tapi, sekedar berbagi, blog Rhamnosa yang dikeluarkan oleh  Himpunan Mahasiswa Farmasi Ars Praeparandi ITB bolehlah ditilik.

Sebagai tambahan, semoga kapan-kapan mereka mau menulis tentang iklan-iklan menyesatkan di televisi (mumpung lagi banyak). Saatnya para farmasis berbicara! 

48 Tanggapan to “Dokter? Atau Farmasis?”

  1. tony Senin, Juni 19, 2006 pada 2:17 am #

    udah cek juga kan?

  2. yohana Sabtu, Oktober 28, 2006 pada 6:02 am #

    Saya sendiri kuliah di jurusan Farmasi, tapi seringkali saya merasa kawatir sama masa depan saya, mengingat masih sedikit peran farmasis di Indonesia, tidak seperti di luar negeri. Saya cuma berharap, suatu saat nanti farmasis di Indonesia mampu menegakkan pharmaceutical care, sehingga tidak cuma sembunyi di balik layar. Dengan begitu, peran farmasis dalam masyarakat akan semakin nampak. Untuk para profesional kesehatan lain, saya minta dengan sangat, supaya membantu peran farmasis, dan jangan meremehkan ya. Please…

    • pram Kamis, Mei 5, 2011 pada 2:37 am #

      ya….anda yang harus menunjukkan peran anda….banyak teman2 farmasis yg bisa memberikan advice yg baik dan akhirnya menjadi mitra yang baik bagi pelayan kesehatan lain dan berdampak bagi kecepatan kesembuhan pasien….artinya kita tidak bisa berharap kepada profesional lain….tapi kita yang memberikan kontribusi di dunia kesehatan dan masyarakat….

  3. S Setiawan Sabtu, Oktober 28, 2006 pada 6:15 am #

    Very interesting. I preety much understand it😀 BTW, kok saya gak bisa kirim email ke Anda ya? Padahal saya mau tanya-tanya sedikit ^^

  4. Meilly Sabtu, Desember 2, 2006 pada 11:47 am #

    Saya seorang calon Apoteker, dan saya dulu saya juga tidak tahu kenapa saya memilih jurusan ini. Jujur saja, dulu saya juga benar-benar tidak tahu siapa itu Apoteker. Yang saya tahu, Apoteker hanya jualan obat di Apotek. Tapi, saya tetap aja bingung kenapa saya memilih untuk kuliah pada bidang yang tidak jelas sama sekali (ini yang ada di otak saya ketika saya belum kuliah). Wajar saja Apoteker tidak dikenal. Memangnya ada berapa banyak Apoteker yang stand by di Apotek buat ngelakuin pharmaceutical care? Ada berapa banyak Apoteker yang mau kasih konseling ke pasien cuma-cuma?
    Dari beberapa Apoteker dan calon Apoteker yang saya kenal, mereka cuma mikirin kita ga bakal bisa atau tega minta profesional fee waktu konseling karena cuma memberatkan pasien.
    Ironis sekali….Pasien aja ga kenal siapa Apoteker, masih berani minta ongkos konseling?!?! Tunjukin dulu kita ini siapa, kerjakan dulu kewajiban sebagai Apoteker…baru mikir soal mau pasang tarif berapa.
    Kalau tidak mau diremehkan, ya tunjukin kompetesi kita. Paling tidak, siap sedia melayani pasien dulu di Apotek. Waktu saya PKL di Apotek, saya menjumpai banyak pasien yang salah menggunakan obat karena kurang informasi. Banyak juga pasien yang rela nelpon dokter buat nanya soal obat, padahal seharusnya nanya Apoteker. Iya kan?
    Salah siapa?

  5. isna Kamis, Desember 7, 2006 pada 1:10 pm #

    oke, harus bersama2 wujudkan itu semua. Harus ada niat tulus OKE???

  6. komang Rabu, Desember 13, 2006 pada 7:58 am #

    saya calon farmasis,
    saya bangga jadi seorang farmasis, walaupun dewasa ini di Indonesia belum cukup terlihat, saya yakin peran kita akan dibutuhkan dan bersama-sama tenaga kesehatan lain akan membangun masyarakat yang sehat…

    Sekedar pemberitahuan, segera akan muncul para farmasis yang akan mereformasi budaya yang dianut oleh para farmasis yang tidak memiliki keberanian untuk tampil dan memberikan pelayanan pada pasien.

    So, bagi tenaga kesehatan yang lain, tolong bertanya pada apoteker klo belum memiliki kejelasan mengenai suatu obat, Karena kami ahlinya…

  7. Setiawan Rabu, Desember 13, 2006 pada 10:21 am #

    I’ll be watching for this topic. Keep your comments coming. Thank you.

  8. arbalest Selasa, Maret 6, 2007 pada 9:22 am #

    memang saat ini farmasis masih belum menampakkan peran sesungguhnya…di samping mungkin masih banyak rekan2 farmasis atau calon farmasis yang belum atau kurang tau seberapa luas-ya peranan farmasis baik di rumahsakit ataupun di farmasi komunitas (apotek). menurut saya agar farmasis eksis, sudah saatnya mulai dari sekarang kita mulai bergerak…bukan hanya minta diperhatikan oleh profesional kesehatan lainnya untuk meminta pengakuan…seorang dosen saya yang juga praktisi farmasi rumah sakit mnuturkan bahwa dia juga pada awalnya mengalami kesullitan ktk berinteraksi dengan perawat dan dokter…namun dengan ketekunan, kesabaran maka secara perlahan-lahan peranannya sebagai farmasis di RS tersebut mulai diakui oleh seluruh elemen RS….nampaknya hal seperti itu yang perlu kita contoh…stop talking start acting!

  9. vivie Selasa, April 3, 2007 pada 12:58 pm #

    Peran farmasis di Indonesia saat ini memang belum terlihat jelas. Belum semua lini yang harusnya dipegang oleh seorang farmasis menjadi wewenang dan tanggung jawab farmasis. Ditambah lagi dgn UU Kefarmasian yang entah kapan akan terbit. Sebagai seorang calon farmasis, mungkin yang bisa kita lakukan saat ini tidak hanya dengan meningkatkan kompetensi kita sebagai calon farmasis semata, namun kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan kolega kesehatan lainnya serta bagaimana menyampaikan konseling yang baik pada pasien juga perlu kita latih dari sekarang. Dengan begitu, orang akan tunbuh kepercayaannya terhadap profesi kefarmasian sebagai mana di luar negeri saat ini, dimana peran apoteker sebagai lini pertama dalam pengobatan… Keep fighting and tetap istiqomah deh…!

  10. buret Selasa, Oktober 2, 2007 pada 11:35 am #

    gemes ya liat farmasis. mgkn karena ini aku gak tamat2 kali ya. ga ada jaminan “diluar sana”, kt dosenku ilmu farmasi yang kita pelajari dikampus ini cuma dunia fantasi, sulit untuk diaplikasikan. Aku senang kita disini semua mulai sadar bahwa ada yang salah dengan pendidikan profesi ini. nggak perlu kita cari tau siapa yang buat kesalahan, mgkn baiknya kita lemparin aja.hahaha. semua permasalahan ini, mgkin lebih mudah untuk diselesaikan, kl semua yang merasa dirinya berprofesi apoteker, ato calon farmasis coba untuk cari solusi bersama-sama. karena yang tua-tua udah ga butuh ini, mereka sudah bisa makan sekarang. betul ga mas, mbak…

  11. doel Rabu, Oktober 24, 2007 pada 4:52 am #

    kebanyakan yang nulis kok calon farmasis yang masih begitu menggebu gebu ingin melaksanakan farmaceutical care di apotek, gmn yang udah jadi farmasis diapotek?? masihkah ada niat yang menggebu gebu juga??

  12. Cindy Sabtu, November 10, 2007 pada 7:53 am #

    niat itu kan perlu… dmn ada niat pasti ada jln.
    saya jg gk blg ntar kalo dah kerja jd apoteker akan jd apoteker teladan. tapi kan tiap orang hrs pny angan2. memang di sini peran seorang farmasis blm diakui. tp kita kan msh bs memperbaikinya. bkn om2 n tante2 apoteker itu hihi( maap2). tp kita.. saya jg msh hrs berjuang nee… huhu…

  13. NiyA Selasa, November 13, 2007 pada 2:10 am #

    mmmmm….. ndengerin komentar kalian… aku jadi pesimis… ow, ya.. aku juga mahasiswa farmasi semester awal yang masih muda untuk punya semangat MEMBARA untuk menjadi farmasis handal yang bisa memperbaiki pandangan orang tentang farmasis. ya mungkin kita harus menerima kenyataan bahwa farmasis Indonesia masih seperti banyangan. truzz gimana nasib farmasis kedepan?? padahal kalo dari SMA, aku ngebayangin Farmasi itu g jauh beda sama Dokter. Sama susahnya. tapi kenapa ya cuma dokter yang dikenal?? kemana Kita?? Yah.. kalo dipikir-pikir emank dari ilmu dan bidang yang sama, dokter punya keuntungan lebih yang JAUH. secara finansial, kalo mau cepet kaya makanya jadi dokter. .. yah, berapa sih gaji seorang apoteker… ??? ya.. bukan materialistis.. tapi.. hal itu sangat meresahkan dan bikin iri… gimana nih?? kasih aku motivasi donk ..

  14. cecill Jumat, November 30, 2007 pada 11:25 am #

    well..
    whatever it takes
    i’m proud to be a Pharmasist!

  15. fajar Jumat, Desember 14, 2007 pada 1:00 pm #

    baik dokter atau farmasis punya ruang kompetensi berbeda dan sama-sama saling membutuhkan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal dan berpihak untuk pasien

  16. kiky Selasa, Desember 18, 2007 pada 10:42 am #

    Skrg niyQ msh ngjLin skuL frmsi..yah wLpn msh kLz1 smf,tpQ jg ngrsa kykx peran farmasis tu krg mNonjoL dAntra tenaga kesehatan Lainx.. DskuL niy pnddknx semi mLter cz skuLx ikt AL.. Q tu ngRsa kLo skuL c2 nuntutQ hrs bs!kLo smpe’ g bs mrka bkL ksh kptsn tuk DO..tp kata instruktr yg ngjr iLmu R/ bLg kLo pekerjaan farmasi adLh pkrjan yg muLia..bgd!tnpa dax seorg farmasi,dokter g akn bs nuLis sbuah R/ kLo g da yg ngRacik obtx..btL g? Tyz kata beLiau seorg farmasis tu sangat dihargai di Luar negeri!bagi orang sna,farmasis tu dh kyk dokter..q sbg caLoN farmasis sgt bgga bgd!cz ortuQ dh g sLh pLhinQ skuL dbidg kes..jd mnrtQ,qt g ush iri ma org Laen/profesi mRka..sLma qt msh bs mnjLnknx dg baek,psti g kn da pkran yg kyk gt!wLpn profesi mrka Lbh dknL org,tp tgs qt lh yg Lbh muLia drpd mrka..cz qt bkrja dg nyawa seseorg yg jd truhanx..

  17. z!sya Selasa, Maret 11, 2008 pada 4:45 am #

    wuih binun jg,,
    ternyata peran pharmacist di Indo kalah ma luar negri y,,di luar dah jelas seorang phamacist dah punya peran penting dalam dunia kesehatan bahkan seorang pharmacist derajatnya bs lbh dr dokter sekalipun,,di Indo kpn y,,,,???
    dosen gw pernah cerita ma gw klo dia pernah dibentak dokter cuma karena nanya-nanya masalah obat,ga ngerti bgt tu dokter marah knp,,dosen gw kan apoteker jg, y cuma pengen ngecek aja x pengetahuan dokter ttg obat,,,
    upz jd curhat,,
    jd gmn kelanjutan apoteker di kita y???
    y moga aja bs lebih dr luar negeriiiii
    kan jd ga sia-sia kite kul di farmasi,,,
    cia you pharmacist,,,
    tunjukin klo loe BISA,,,,

  18. idrus Kamis, Maret 13, 2008 pada 12:18 am #

    kasian kalian semua ,mati aja lebih gampang .

  19. ika Sabtu, Maret 15, 2008 pada 5:01 am #

    sebagai clon farmasis,, kita harus optimis dan berjuang kalo suatu saat kita pasti bisa bngkit

    kalo yang berjuang demi farmasi bukan kita lalu siapa lagi?
    sekarang kita bergerak atau kita hanya pasrah menunggu saat semua orang semakin tidak kenal farmasis…

    farmasis juga sangat berkompeten,, cuma blm banyak yang show up..

  20. areep Senin, Maret 24, 2008 pada 2:34 am #

    tulisan anda benar… anak farmasi lebih enggan menulis bisa dikatakan 60% benar, bisa dilihat, jika kita cari hanya segelintir kecil dari mahasiswa farmasi yang aktif menuliskan dan berbagi informasi di media seperti blog, saya pernah menanyakan mereka untuk iseng membuat blog, toh mereka banyak yang cuek ada juga yang menjawab “blog, emang ada manfaatnya? mending FS-an”

  21. zi Jumat, Maret 28, 2008 pada 3:44 pm #

    wakakakaka…..
    teman2 farmasis q, klo qta mau ada perubahan, berarti qta juga harus berjuang donk, jgn hanya pesimis n terima nasib aja, bener g y???? he4…🙂

  22. zi Jumat, Maret 28, 2008 pada 3:54 pm #

    oya, aq juga ada saran bwt dibagi-bagi nih:
    kata bapak/ibu dosen q….. untuk bisa jadi seorang farmasis atau apoteker yang berkompeten, qta harus: mulai membiasakan diri untuk punya habit “ingin tau sgla ssuatu ttg obat” serta harus “siap” untuk “berdampingan” ama dokter sbg rekan kerja yang setara, gtu, karena sebenernya, hubungan antara qta n dokter itu adalah SALING MELENGKAPI, gtu……. ayo semangat tmn2 farmasis q, bersama qta ubah “dunia” qta!!!!!!!!!! Semangat!!!!!!!!! wakakakaka…… Amin….. moga2 bnrn bisa…..

  23. ben Senin, Maret 31, 2008 pada 12:07 am #

    yupz…
    saatnya kita sebagai generasi penerus farmasis berjuang untuk perubahan yang besar..

  24. BoeDy Minggu, April 6, 2008 pada 7:37 am #

    saya tertarik dengan comment calon farmasis ini….
    saya seorang apoteker yang sudah bekerja di industri farmasi.
    namun sebelum memasuki ind farm..dulu sempat berkecimpung di apotek atau klinik
    saya cukup prihatin dengan farmasis yang sudah ada diluar…. memang banyak farmasis atau lebih tepatnya isfi , saat ini menuntut akan pharmaceutical care, tetapi bagaimana itu terlaksana bila motornya (ISFI dan para apoteker yang ada di birokrasi hanya omong thok)sebenarnya banyak uneg uneg saya terhadap isfi yang sama sekali tidak menunjukkan adanya kegunaannya pada profesi farmasi itu sendiri.kalo ada yang berminat diskus, imel saya langsung

  25. shinta Sabtu, Juli 12, 2008 pada 1:00 pm #

    apa sih farmasis itu? aku baru tahu jawabannya setelah kuliah smt akhir di farmasi. dulu aku pengen kul di farmasi ya buat keren2an aja. bangga githu kul farmasi di universitas negri yang dapatnya sulit n butuh perjuangan. slama kul aku ya suka2 aja blajar kimia mpe keblenger, blajar obat semalaman tp lama2 aku bertanya2 gmn caranya nerapin ilmuku ini. terlalu banyak yg kupelajari n aku ga bisa nyambungin. secara ip-ku diatas 3 tp aku ga ngerti jika terjun di masyarakat. aku dulu mikir kerja jd apoteker tu enak. tinggal pasang nama di apotek, datang sebulan skali buat ngambil gaji. ga ada tuh aku denger ada apoteker yang ngasu konsultasi di apotek. sadarnya aku ya di smt akhir kul, bahwa seorang farmasis adalah orang yang mengerti tentang obat yang wajib memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang obat agar tercapai efek terapi optimal. sapa lagi yg bisa mengedukasi masyarakat ttg obat kalo bukan kita sbg farmasis???? mulai sekarang marilah kita sadar dg eksistensi kita, bahwa kita adalah sebuah profesi yg sangat dibutuhkan oleh masyarakat. marilah kita menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita ni ada.

  26. cihuynaiponk Jumat, Agustus 22, 2008 pada 2:52 pm #

    hwehhe ky`a ribut bgd niy. . .bicara emg lbh mudah daripada bertindak. saya dah sering bgd denger komentar atw baca tulisan klo peran farmasis di Indonesia blum begitu kliatan palagi klo dibandingin ma negara2 eropa ky Jerman misalnya. tp klo cmn ribut sendiri di kalangan farmasis jg tnpa da tindakan yg nyata,,4 what?? kenyataannya yg baca atw ngasi komen disini kan farmasis atau calon farmasis jg, so biar masyarakat di luar tw keberadaan farmasis gmn klo mulai skg qt bahu-membahu u/ mensosialisasikan atw bahasa pemilunya “mengkampanyekan” keberadaan farmasis ke masyarakat luas,,klo masalah cara`a pst dah pd tw dunx. . .ga usa banyak ‘cincong’ langsung take action aza oc!

    hwehhe saya mhs farmasi semester 5,,doain y biar cepet lulus ^_^

  27. Na_phiZ Jumat, Agustus 29, 2008 pada 2:39 am #

    Aduh,..aduh,… aku juga anak farmasi niehhh,..
    Tewmen2 ayoo,.. kita jangan cuma omong2 doang!!!
    Ayo kita RefoRmasi n Ubah nama Famasi n pandangan orang tentang farmasis di kalangan masyarakat,…
    SMANGATTTT!!!! paZti kita bisa menaklukan ini semua,..

  28. fenny Selasa, Oktober 7, 2008 pada 3:07 am #

    ha..ha..
    Aq jg bosen nech… jwb ptanyaan dr sodara2..yg nanya kuliah apoteker tuch apa?beda nya ma S2 apah? dan parahnya, mereka taunya apoteker itu tukang nunggu warung yg jualan obat.skarang sy lg nngambil kul profesi…

  29. ike garnida Kamis, Oktober 16, 2008 pada 1:41 pm #

    hallo semua farmasis dan calon farmasis indonesia,
    mulailah berubah dari diri kita sendiri, minimal terapkan ilmu yang kita punya untuk orang-orang terdekat kita…………..mulailah dari hal kecil. jadi farmasis banyak beramal lho……..

  30. tukangobatbersahaja Jumat, November 7, 2008 pada 4:52 am #

    Saya juga farmasis/ apoteker
    semoga farmasis muda dapat berkarya lebih baik lagi.

  31. iken Jumat, November 7, 2008 pada 5:02 am #

    No pharmacist no service!

  32. Areep Kamis, November 13, 2008 pada 9:56 pm #

    Masalah dokter lebih dikenal ketimbang apoteker memang sebenarnya kesalahan ada dikita dimana kita(rekan2 seprofesi yang ada diapotek) banyak yang sulit untuk ditemui terutama yang berada di pinggiran kota atau di daerah kecamatan. nah jika ingin dikenal harusnya kita berusaha melaksanakan pelayanan sebaik mungkin dan menunjukkan pentingnya seorang farmasis. tidak hanya numpang pasang nama trus terima gaji

  33. debora Rabu, Januari 28, 2009 pada 3:11 am #

    AQ anak farmasi USU neh. Mmm,, memang berat y jd seorang farmasis neh. Dah kulnya capek nya setengah mati…, trus… ga jelas gitu gmn ntar selanjutnya. Palagi banyak yg meremehkan. Blum lagi pandAngan masyarakat luas yg menganggap apoteker tuch cuma jualan ja di apotek. Padahal begitu banyak peran yg kita lakukan dibalik layar yg sangat membantu kehidupan. Hayo teman2 farmasis semuanya semangat mengubah pandangAn org tentang kita. Sebenarnya kita lebih hebat dr dokter lo., tau ndiri kan alasannya.
    HIDUP FARMASIS !!!

  34. neta Selasa, Februari 3, 2009 pada 7:23 am #

    aq sey sering denger dari dosen aq katanya sey klu diluar negri ntu seorang farmasis juga ditugaskan di bangsal2 tapi kayaknya belum untuk di Indonesia.
    ya semoga z bisa terwujud di negri qta tercinta ini.

    • bayu Rabu, Desember 16, 2009 pada 5:54 am #

      sudah kog di RS ramlan, margono dah mulai ada PC.

  35. dta Senin, Maret 16, 2009 pada 7:21 am #

    sebenernya yang jadi masalah di sini adalah dari sdmnya sendiri. apoteker di qta kebanyakan belum pede untuk dapat berdampingan dg dokter,..
    knapa ga pede? ya..balik lagi ke diri sendiri, mungkin mereka blm merasa mampu. so,…sebagai calon apoteker atau farmasis mari qta buktikan qta mampu dan bisa sejajar dengan dokter!!! HIDUP FARMASIS…..
    satu lagi,..knapa masyarakat lebih kenal dokter dari pada apoteker?karena kata dokter lebih sdkt suku katanya drpd apoteker, jd gampang diinget….hehehe ^^

  36. fany Selasa, April 21, 2009 pada 3:16 am #

    walah2…..kok malah jd ribut yak….
    tenang2 jeng2 n kang2….
    sante aja…
    yang penting kita ngejalaninya dengan hati yang tulus berniat bekerja sebagai seorang farmasis yang jujur n berpegang teguh pada sumpah janji profesi…
    jd jangan dibuat pucinggggg…
    muah..

  37. fany caem Selasa, April 21, 2009 pada 3:18 am #

    bapak-bapak n ibu2 apoteker…
    tolong bimbing kami2 ini yang baru mw akan mengamalkan ilmu kami….jangan sepelekan kami ya….
    bagi pak dokter n bu dokter…mohon kerja samanya ya………………………………………….

  38. IREINEI Rabu, April 22, 2009 pada 12:01 pm #

    saya masih bingung sebenarnya kompetensi farmasis d masyarakatkok belum dikenal y……..?apakah karena farmasis sll dibelakang layar?kurang ilmunya. minta masukan y!!!!!!!!!!!!!!!

  39. liew267 Sabtu, Agustus 22, 2009 pada 4:00 am #

    thanks 4 this posting,, saya calon farmasis juga, dan saya nge-blog,🙂 banyak juga temen2 saya nge-blog ko’ .. Postingan ini bikin saya lebih semangat.. 😀 salam kenal ya..

  40. kireina Selasa, Oktober 13, 2009 pada 7:32 am #

    haduh.kapaaaan indonesia bs kyk luar negri??
    dimana peran farmasis lbih tggi drpd dokter.
    lemparin diri ke luar negri aj yuukk.gemes gw ma indonesia.
    sebenernya di Indonesia dah ada beberapa RS yg menerapkan sistem dimana dokter n farmasis bs kencan,mksutnya kerjasama terjun ke bangsal2,dokter yg mendiagnosa,farmasis yg nentuin obatnya.walopun masih sangat langka,tp sdikit kmjuan harus dihargai.
    buat para farmasis maupun baru calon (kyk aku yg masih semester 1 pharmacy,islamic university of indonesia,jogja),tunjukkan kalo kita mampu.jgn mau diremehkan!!! bersatu kita teguh,bercerai kita bersatu lagi.ok guys??

  41. mwellyan Kamis, Oktober 22, 2009 pada 5:42 am #

    Sebenarnya tidak sulit untuk menunjukan peran dan eksistensi apoteker di masyarakat. Kalau saja para apoteker penanggungjawab apotek sebagian besar mau menyediakan jadwal khusus untuk melayani konsultasi obat di ruangan apoteknya, maka saya yakin dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama masyarakat Indonesia akan lebih mengenal profesi kita, dan juga semakin membuat omzet apotek kita meningkat (karena masyarakat sudah merasa membutuhkan kita).

  42. Nurasri Sabtu, Oktober 24, 2009 pada 1:51 pm #

    Z Jg skul d’smk jurusan farmasi,n insyaAllah ntar lg lu2s!amin!!n z bangga mnjdi bagian dr jurusan ini,apalg skul t4 z bljr mrip dgn cr blajar nak kuliahan coz gurux bxkan dosen sih..pokokx farmasi is okayy:-D

  43. iman Sabtu, November 21, 2009 pada 3:26 pm #

    teman2 sejawat,.para apoteker masa depan, mari bersama-sama kita tunjukan eksistensi kita sebagai apoteker di masyarakat, mungkin untuk mengharapkan fee dari konseling sebaiknya no 2, tp kita tunjukan peran kita bahwa kita ini ada untuk masyarakat..perjuangan membutuhkan pengorbanan, kalo bukan kita siapa lagi yang akan memperbaiki..jika kita udah dikenal, maka barulah kita bisa menetapkan fee dari setiap konseling yang diberikan..hidup famasis indonesia

  44. olin cute Jumat, April 1, 2011 pada 12:58 pm #

    hmmmm ya udahlahh ga usah diperdebatkan lg.. yg penting mari kita mulai bergerakk,, abdikan diri pd masyrakat semampu kita… dgn niat yg baik, usaha yg optimal kita mampu menjadi faramsi spt diluar negri san,, tp mesti sabar krn sgla sesuatu itu bth proses, ga semudah membalikkan tangn.. CAAYYOOO GBU

  45. calon apoteker Selasa, September 20, 2011 pada 6:06 pm #

    perkenalkan, saya a/ seorang wanita yg memulai karir dari bawah.. Sy melanjutkan studi setelah SLTP ke SMF (Sek. Menengah Farmasi) setelah lulus saya bekerja menjadi AA (ass. Apoteker). Karena merasa tidak puas dg gaji & tuntutan jaman & bersyukur dpt kesempatan sy melanjutkan studi S1 farmasi. Setelah lulus sy sempat bekerja mjd store manager.tp hanya sebentar k/ puji Tuhan dpt kesempatan lg u/ melanjutkan studi apoteker. Saat ini sy sedang menantikan jadwal PKL.
    Yg saya syukuri selain kesempatan menimba ilmu a/ kesempatan bekerja. buat sapa2 di atas yg merasa bingung dg dunia ini/ gelap skali rasanya masa depan di farmasi… ANDA SALAH.
    Masuki dunianya & rasakan ada kepuasan batin disana… Berikut pemaparannya…
    Saat mjd AA (sekarang istilah ini dganti mjd Tenaga Teknisi Kefarmasian), memang gaji sy blm mencukupi kebutuhan tp itu krn sy baru lulus & bekerja di tempat yg kecil.tp,beeeuuuh pengalamannya… Bener tuh kl mo cepat merek obat ya kerja,kl baca buku uh susahnyaaa (mengingat jaman sekolah SMF) tp, kl praktek kan tiap fisik obat ada identitas sendiri & menurut teori warna membantu belajar maka banyaknya obat bisa lebih cepat dipahami. Sy,jg dituntut kerja cepat,kebetulan sy bekerjja d RSIA.wah kebayangkan resep pulveres anak mah langganan. Tp,bikin kita cekatan lho! Trus bljr berinteraksi dg dokter2 penulis resep,dimulai dari mengajukan saran u/ memperbaiki tulisan (hahaha sulit lho baca tulisan cakar ayam), kemudian verifikasi resep (yah kemampuan msh ecek2 c) tp ini bisa diasah kl kerja karena variasi kasus & akan lbh baik lg kl lulusan Apoteker k/ ilmunya sdh mendalam.
    Kemudian…
    Waktu mjd Store Manager, sy dituntut u/ memberikan pelayanan terbaik bagi 2 klien skaligus.bagi customer & perusahaan. Bagaimana spy customer mdptkn kebutuhannya & loyal sama kita (syukur2 dpt pujian ginini: aduh mba,namanya sapa mba? Mksh banyak ya… Nanti kl ada perlu sy telp cari mba ya….) skaligus memenuhi target sales perusahaan. Karena kita kan kerja u/ cari makan ya… Mksdnya biar dpt gaji,kl hidup kita terjamin,perusahaan berkembang,kita dapat bonus, kerja makin semangat lagi yay!!
    Yah kl jd Apt. C blm… Tp ga sabar bgt mo PKL, plg g sabar itu PKL ke pemerintahan, industri k/ blm pernah pnya pengalaman sama sekali.
    Oiya, lapak kita u/ bekerja banyak lho, cek PP 51 deh….
    1 yg mjd keyakinan sy a/ kl kita bekerja dg tekun & tekun pasti kita bisa berkembang disitu,kl soal gaji & masa depan itu upah dari Tuhan. Dia ga tidur, Dia melihat usaha umatNya. Burung2 di udara aja dipelihara lha apalgi kita manusia yg jauh lebih berharga

  46. calon apoteker Selasa, September 20, 2011 pada 6:19 pm #

    ada yg ketinggalan… Buat bu dokter di atas alasan dokter blh praktek di 3 tempat anda lebih tahu dari saya.
    tp alasan max tempat kerja apoteker cek d PP 51. Singkatnya begini APA (Apt. pengelola apotek) hnya boleh bekerja di 1 tempat apotek k/ fungsi dy disitu skaligus 3: Apoteker u/ konseling ke pasien, manager usaha apotek, & pemimpin bagi karyawan2nya. Uuuh kl ini bisa dijalanin dg baik & berimbang dah jago kaleee… tapi kalau mo lari sana-sini bisa jd Apoteker pendamping… Nah boleh deh megang Max 3 apotek. Fungsinya a/ u/ melayani saat APA tidak masuk (ga mgkn kan APA nonstop d apotek… Kl kurang istirahat jg ga akurat kerjaannya.sementara selama apotek buka & mau melayani resep hrs ada Apoteker)
    Yah,kl mo bicara soal pendapatan bisalah diperhitungkan u/ APA dg fungsi tsb & tidak bisa bekerja di apotek lain seharusnya mdptkn penghasilan yg layak (ini msh mjd perjuangan beberapa APA)
    Kl,jd Apoteker Pendamping kan gajinya bisa max dpt dari 3 tempat walau nominalnya pasti lbh kecil dari APA/tiap apotek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: