Public Writing: Getting Yourself Heard, One Hit at a Time

27 Jun

Namanya juga manusia, pasti banyak hal yang ditakuti. Pas lagi baca buku, saya melihat daftar “Greatest Fear in the US“. Entah survey dari tahun berapa. Isinya begini:

  • A party with strangers (74%)
  • Giving a speech (70%)
  • Asked personal questions in public (65%)
  • Meeting a date’s parents (59%)
  • First day on a new job (59%)
  • Victim of a practical joke (56%)
  • Talking with someone in authority (53%)
  • Job interview (46%)
  • Formal dinner party (44%)
  • Blind date (42%)

Wew, isinya memang mengerikan..πŸ˜›

I note that, dalam semua fear-list yang pernah saya lihat, “public speech” pasti selalu masuk top three. Why, talking in public is scary isn’t it?πŸ˜›

Kata Tante Wiki, “Public speaking is speaking to a group of people in a structured, deliberate manner intended to inform, influence, or to entertain the listeners.” Kita semua dapat berbicara dan memberikan informasi, tapi tidak semua bisa mempengaruhi, atau menghibur pendengarnya. Inilah yang membuat public speaking begitu menakutkan. Merajut kata-kata menjadi sesuatu yang punya efek mendalam pada pendengarnya memang bukan perkara mudah.

Beberapa orang yang tidak jago ngomong, memilih untuk menulis. Mirip-mirip dengan public speaking, menulis juga membutuhkan keahlian tersendiri. Kalau membosankan, aneh, atau mengganggu, kemungkinan besar tidak ada yang mau membaca tulisan kita. Mendengarkan notabene membutuhkan konsentrasi dan niat yang lebih sedikit daripada membaca, jadi sepertinya benar bahwa ‘public writing‘ lebih sulit daripada public speaking. Making your audience to read is harder than making them to listen, imo..πŸ˜›

So, what I do now, is terribly tough to do? Perhaps.

Saat menghasut beberapa orang untuk membuat blog, saya mendapatkan beberapa jawaban yang kira-kira begini, “Aduh, gue kan nggak bisa nulis. Nanti gue nulis apa dong?” Oh, yeah, writing is tough. Banyak orang bisa bicara, tetapi lebih sedikit yang bisa menulis. But nevertheless, writing has it’s benefits. Misalnya melalui blogging. Kata Bang Enda di sini, blogging memberikan kita sense of purpose, melatih kemampuan kita untuk berpikir, dan membebaskan kita untuk berkreasi dan berekspresi.

Setuju!

Tetapi, saya juga punya tambahan. ‘Public writing‘ gives you a chance to be heard. Menyuarakan pendapat tidak mudah, tetapi, dengan blogging, misalnya, Anda memiliki kesempatan untuk didengarkan. Misalnya seperti saya. Saat melepas blog ini ke pasaran (hanya istri, anak, kakak, dan mantan-istri saya yang waktu itu diberitahu akan keberadaan blog ini) saya tidak pernah berharap mendapat respon yang baik. Kalau hanya ada satu-dua pengunjung per hari, itu wajar, karena tujuan saya memang bukan jadi blogger-superstar..πŸ˜› *ditimpuks* Tetapi, seiring dengan waktu, saya menyadari bahwa blog saya memang benar-benar ada yang baca (meski sedikit, dan tidak menutup kemungkinan, sebagian besar pengunjung hanya numpang lewat). Buktinya, saat ini, angka hit count sudah melebihi 1200. Then, I was thinking, “Wow, a small group of people is listening to me. One hit at a time.” Ain’t that something?

Angka seribu memang angka yang kecil disini. But think of the potency. Kalau dalam satu bulan ada 1000 hit, dalam 1 tahun ada 12.000 hit. Hueh, people are listening to me, 12.000 times in a year. Cute..πŸ˜›

Untuk mereka yang berpikir: ah, hit counts are nothing, itu cuman cara para pemilik blog untuk pamer. Mungkin. Tapi, lebih dari itu, hit counts memberikan gambaran pada pembaca bahwa penulis blog yang mereka baca didengarkan oleh orang lain pula, terlepas dari kualitas tulisannya.

And you know what? It’s always nice to have people listening to you.. ^^

6 Tanggapan to “Public Writing: Getting Yourself Heard, One Hit at a Time”

  1. herda Rabu, Juni 28, 2006 pada 3:28 pm #

    What a great post! ^^

  2. S Setiawan Rabu, Juni 28, 2006 pada 6:16 pm #

    Aw aw awh.. :”>

    ..jadi malu :-“

  3. kriwil Jumat, Juni 30, 2006 pada 8:43 am #

    kalo gue sih, gue ngeblog karena gua mau, bukan karena mau dibaca orang. dan itu selalu yang gue tanam di kepala ketika menulis setiap entry. dengan membayangkan bakal ada yang baca, biasanya malah tulisan-tulisan yang keluar jadi dibuat-buat dan anehπŸ˜€

    kalo toh ada yang baca juga, ya itu masalah popularitas *dibakar*πŸ˜›

  4. SS Jumat, Juni 30, 2006 pada 11:32 am #

    Huahauhauuha..

    Everyone has their own reason. Buat gw juga bedanya antara banyak dan gak banyak yang baca cuman SATU: gw kaga bisa pasang foto-foto asoy disini :-”

    Kalo banyak yang lihat, malu saya.. :”>

    *ditimpuks*

  5. herda Senin, Juli 17, 2006 pada 4:44 am #

    Keriwil:
    Bohong! Kalau ga mau dibaca orang, kenapa promosi mulu? :-“

  6. kriwil Senin, Juli 17, 2006 pada 5:23 am #

    loh, siapa yang promosi?πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: