Menjadi Lebih Nasionalis dalam Berbahasa

30 Jul

“Sekarang ungkapan bahasa Inggris bertaburan sehari-hari tanpa disengaja penuturnya. Tanpa memberi kesan hebat atau keren. Istilah-istilah itu hadir dalam tulisan dan percakapan orang berbahasa Indonesia, Jawa atau Bali, karena pemikirnya tidak tahu cara lain untuk merumuskan pikirannya.

Indonesia semakin mirip bangsa-bangsa bekas jajahan Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Indonesia yang mulus, tanpa istilah-istilah bahasa Inggris mutakhir yang sedang pop. Mereka juga tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Inggris yang mulus, tanpa berlepotan logat dan pengaruh tata-bahasa bahasa Indonesia. Ada banyak Nadine di antara yang menertawakan Nadine.” (”Nadine” oleh Ariel Heryanto dalam Kompas 30/07/2006)

Saya disindir. Anda disindir. Kemungkinan besar, mayoritas orang yang membaca tulisan ini juga tersindir. Tidak hanya sekali, kita sudah pernah membaca artikel dengan esensi yang kurang lebih sama dengan tulisan di atas, berkali-kali. Masalah berbahasa memang selalu menjadi topik hangat di Indonesia, apalagi kian hari cara kita berbahasa tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Waktu video wawancara Nadine menjadi topik ngetop, saya adalah satu dari banyak orang yang menertawakan Mbak yang satu ini. Apa mau dikata, menertawakan kesalahan orang lain merupakan sesuatu yang enak dilakukan. Terlebih, saya juga bukan pendukung Nadine sejak awal pemilihan ”Miss Indonesia”. Dengan alasan ”lebih cocok dengan selera juri Miss Universe”, Nadine dipilih, mengalahkan saingan-saingannya yang saya rasa lebih cocok untuk mengenakan tiara yang disematkan di kepalanya.

Saat melihat video wawancara itu, terbersit pertanyaan di benak saya, ”Inikah representasi orang Indonesia yang ingin ditampilkan oleh Nadine? Tidak bisa menjawab pertanyaan dengan diplomatis, gugup di depan kamera, dan terbata-bata berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak sempurna?” Mungkin ya. Representasi ini benar adanya. Bila saya atau orang-orang lain dihadapkan di depan kamera, untuk menjawab beberapa pertanyaan, kemungkinan besar banyak dari kita yang akan bertransformasi menjadi Nadine. Tanpa mengecilkan kualitas orang Indonesia, Nadine yang berwajah bule memang lebih Indonesia dari yang kita ketahui.

Untuk soal berbahasa, bisa jadi, kita yang asli Indonesia, justru lebih bule daripada Nadine. Tidak sedikit dari kita yang mampu berbahasa asing. Sering menggunakan istilah aing dalam tulisan atau percakapan. Bahkan lebih fasih menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia. Dikaitkan dengan nasionalisme, katanya, ”bahasa menunjukkan bangsa”. Katanya, kalau tidak mau berbahasa Indonesia dengan baik, jadinya Anda tidak punya semangat nasionalisme. Apakah tolak ukurnya selalu begitu? Apakah dengan menaburkan beberapa bahasa asing dalam kata-kata yang dikeluarkan, kita otomatis menjadi tidak nasionalis?

Banyak alasan kenapa kita rajin menyelipkan bahasa asing dalam kalimat-kalimat yang kita lontarkan. Menurut penulis artikel yang saya kutip, penyebabnya bisa jadi karena malas dan ketidaktahuan. Misalnya, apakah Anda tahu padanan ”motherboard” dalam bahasa Indonesia? Saya tidak tahu. Mungkin Anda juga. Saya terlalu malas untuk mencari tahu. Mungkin Anda juga.

Ada yang mengatakan kalau orang Indonesia itu pemalas dan banyak tidak tahunya. Mau protes? Silahkan, saya juga. Tapi, mau diprotes seperti apapun, mungkin hati kecil kita masih sedikit mengiyakan hal itu. Bahasa menentukan bangsa. Kita menggunakan banyak istilah asing karena malas dan tidak tahu. Berarti, kalau hati kecil kita masih bisa mengiyakan dua hal tadi sebagai identitas bangsa, kita mungkin lebih nasionalis dari yang kita duga.

PS: Oh yesh! Kecuali untuk kata ”motherboard”, aye bisa nulis satu halaman tanpa menyelipkan ” istilah-istilah bahasa Inggris mutakhir yang sedang pop” *siyul2* Eniwei, baidewei, baswei, it’s just my two cents. Jangan tersingung. Kalo tersinggung, ajak-ajak dunks. Saya kan juga orang Indonesia.. :-”

12 Tanggapan to “Menjadi Lebih Nasionalis dalam Berbahasa”

  1. tony Senin, Juli 31, 2006 pada 2:18 am #

    kalo bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan pada orang lain, lebih bisa dimengerti mana, mouse ato tetikus? download atau unduh? mana yang lebih standard? mana yg lebih universal? kita bicara juga soal globalisasi di sini, bahasa kedua sudah jadi tuntutan profesi. urusannya nafkah nih.

    lagian bahasa indonesia kan mengenal kata serapan, sebagian besar istilah kita juga hasil serapan. daripada bikin istilah baru yang justru tidak membumi, ya sudah serap saja, toh kita sendiri gak kenal konsep itu sebelumnya.

    oya, manajer itu dari bahasa mana ya?

  2. SS Senin, Juli 31, 2006 pada 2:22 pm #

    Wah, ndak tau tuh saya ya. Ayo, siapa yang tau root-nya “manajer”? ^^

    Wekekek.. Tenang, Bang, aye kan juga salah satu manusia yang sering pake bahasa campur aduk, jadi, jangan protes ke saya.. :-”

    Lagian, udah bagus kalo bahasa Indonesia, serapannya masih asoy. Kalo kayak Jepang, wah, serapannya lutu..😛

  3. aribowo Selasa, Agustus 1, 2006 pada 4:43 am #

    kunjungan pertama neeh salam kenal yach

  4. SS Selasa, Agustus 1, 2006 pada 2:45 pm #

    Salam kenal juga Mas Ari! ^^

  5. Herda Kamis, Agustus 3, 2006 pada 2:17 pm #

    Makanya si Nadine ga usah sok bule! Ngomong pakai bahasa Indonesia pas wawancara juga afdol-afdol aja. Kayak miss mana tuh.. yang pake bahasa asli negaranya sendiri. Daripada salah2 ngomong pake bhasa Inggris, mending pake bhasa sendiri.

    Lagian juga si Nadine thu ga pinter jadi Miss Indonesia, heran .. dulu juri-juri milih Nadine karena apa yah? Apa karena lantaran dia tinggi dan berwajah bule gitu?? Masih mending Artika deh .. ngomong pake bhasa Indonesia tegas dan mantap ga terbata-bata. Lha Nadine?? Ngomong pake bhasa sendiri aja masih kikuk gimana dia ngomong pake bhasa inggrisss??? Doh malu-maluin banget …

    Iya gwe tahu .. gwe sadar .. gw juga ga bisa bahasa inggris tapi aduuh.. plis deh .. –; Dia itu “miss” ..

    apalagi pas Nadine bilang .. “my admire is madam Theresa” !!!! -_____________________-;;;;;

    GE-ER berats!!!!!!

  6. Herda Kamis, Agustus 3, 2006 pada 2:34 pm #

    Gyaaa.. ini milik saya!! \:D/

    Akhirnya dapet juga ..

    Duh skrinsyutnya susyaaahhh……. eh bisa skrinsyut ga sih di komen? ^^;

    Test yah .. klo gagal ya biarin aja😀

    [URL=http://imageshack.us][IMG]http://img222.imageshack.us/img222/4847/hitsez1.jpg[/IMG][/URL]

  7. Herda Kamis, Agustus 3, 2006 pada 2:37 pm #

    Blah gagal! =P Eh buset kena moderation ^^;;

    Ah saya juga mau ngeklaim hit stats nya kok =P

    3,333 hits ^_^v

  8. ario dipoyono Kamis, Agustus 3, 2006 pada 9:43 pm #

    salam kenal aja deh

  9. tony Jumat, Agustus 4, 2006 pada 2:33 am #

    masih nunggu 4210.. ~o)

  10. tony Jumat, Agustus 4, 2006 pada 2:33 am #

    masih nunggu 4201.. ~o)

  11. MaIDeN Jumat, Oktober 6, 2006 pada 10:10 pm #

    Asal enak diucapkan, itulah nantinya yang kan dipakai orang😉

  12. Alan Sabtu, Maret 31, 2007 pada 4:54 am #

    Cool design, great info! Visit my sites, please:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: