WCWIWCG: What Client Wants Is What Clients Got

8 Agu

Dalam pekerjaan apapun, di bidang apapun, kita pasti selalu memiliki tipe-tipe klien favorit. Klien-klien favorit ini membuat pekerjaan terasa menyenangkan dan tanpa beban. Sebaliknya, kita juga memiliki kategori klien-klien yang tidak terlalu difavoritkan.

Saya belum terlalu lama menjalani dunia desain grafis. Menjadi desainer grafis adalah pekerjaan ke-sekian saya, setelah mahasiswa, reporter, editor, konsultan, kakak, adik, mantan-suami, mantan-Papi, etcs lah. Meski demikian, saya sudah cukup lama menyadari bahwa ada dua tipe klien yang sering menyeret saya ke dalam mimpi buruk.

Tipe pertama adalah klien yang tidak tahu apa yang mereka inginkan. Mereka tidak punya rujukan contoh. Mereka tidak tahu warna dasar apa yang harus dipakai. Mereka tidak punya konsep dasar. Desainerlah yang harus menentukan semua itu, bukan mereka. Kutipan mereka yang paling terkenal adalah, “Terserah kamu aja deh..” Ada yang bahagia dengan tipe klien ‘angguk-angguk’ seperti ini. Apapun yang Anda berikan kepada mereka, mereka pasti merespon dengan mengangguk-angguk dan berkata, “Bagus, bagus..” It makes the job easier to be done. Tapi buat saya, klien seperti ini juga bisa membuat stres, since you dont know where is the start and finish line.

Tipe kedua adalah klien yang ingin segala sesuatunya dibuat sesuai standar. Standar yang benar-benar standar. Standar yang benar-benar membosankan. Kutipan terkenal mereka adalah, “Saya mau yang begini -merujuk sebuah contoh desain yang super standar-. Pokoknya yang begitu ya..” Saya tidak terlalu suka membuat sesuatu yang dibuat terlalu mengikuti standar. Everyone should have a little fun in life! Why not taking a little risk?πŸ˜€

Saya mengakui dengan sepenuh hati, bahwa meski sudah menggeluti dunia desain bertahun-tahun, saya masih seorang amatir. Tidak punya konsep brilian. Tidak didukung oleh kemampuan desain yang luar biasa. Belum ditambah dengan selera warna yang terlalu plain untuk banyak orang. Apa mau dikata, saya mulai masuk dunia desain grafis agak terlalu cepat. Saat-saat menjadi desainer dengan pilihan warna catchy dan semarak itu sudah lama hilang ditelan masa-masa kejayaan SMA. Yang terjadi adalah, saya telah memasuki zona dimana gaya desain saya sudah memasuki masa ‘paruh baya’. Motto saya sekarang adalah ‘keep it neat, simple and functional’. The kind of style most clients doesn’t want. They want standard design. They want colours everywhere, which I cant provide.

And so, I ended up with the wrong client again.

[Homer Simpsons mode : ON] D’oh!

Setelah merasa jenuh dibuat mumet dengan klien-klien seram ini, saya memutuskan untuk memberi apa yang diinginkan klien. What they want is what they got. Masa-masa giat melobi desain itu akan saya tinggalkan. Toh, kalo sudah mentok, klienlah yang selalu menang, bukan desainernya. Perkara bahwa desainnya akan terlihat buruk, itu bukan urusan saya lagi. Well, setidaknya saya sudah mencoba memberi beberapa saran, betul? Kalo ndak mau, yo wes tho..πŸ˜›

PS: Buat yang sering mendengar saya berkata, “I shud quit being a graphic designer,” well, maybe I meant what I said. What do you think?πŸ˜‰ Menjadi editor jelas lebih menyenangkan..πŸ˜› *bakar yang dari kemaren pada nagihin editan gratis*

17 Tanggapan to “WCWIWCG: What Client Wants Is What Clients Got”

  1. tony Rabu, Agustus 9, 2006 pada 2:44 am #

    [client]

    udah amatiran.. gak mau nurut apa kata majikan.. udah gitu desainnya boring lagi.. bisa kerja gak sih? :-”πŸ˜€

    [/client]

    *walk, don’t run*

  2. Guntar Rabu, Agustus 9, 2006 pada 2:45 am #

    Udah lama ndak main ke sini nih. maap. Yg jelas klo postingnya ttg bola saya bungkam deh:mrgreen:

    Apa yg sampean sampaikan menarik, Mas. Saya jadi inget juga klo punya client yg minta dibikinin software. Saya sih mending client model yg pertama ketimbang yg kedua. Klo yg kedua tu klo udah sok teu repot. kita ndak bisa berkreasi dg standard performa kita (assuming we have oneπŸ˜› )

    when you said something like β€œI shud quit being a graphic designer”, ijinkan saya untuk melarang, Mas. Saya juga suka mainan grafis, dan jadikan itu bener2 sbg kesenangan.

    Saya usul sampean temukan kembali unsur2 kesenangan dari desain grafis. Bolehlah kita nurut client tipe dua, tapi sapa yg mo ngelarang klo kita kemudian mbikin versioning sendiri. Ini penting utk menumbuhkan kepuasan dan sense of control dari gaya spesifik kita. Sekedar saranπŸ™‚

  3. SS Rabu, Agustus 9, 2006 pada 3:49 am #

    Wekekek..πŸ˜€

    Tenang aja, Mas Guntar. Kalo soal desain-mendesain, kemungkinan besar saya gak akan bosan ngulik mainan yang satu ini. Quit being a designer, maksudnya dalam konteks pekerjaan. Soalnya, so far, buat saya cara paling gampang untuk dapat uang saat cekak sih ya dengan desain. Jadinya dari dulu stuck disini. Tried to quit it dengan motif mau nyoba sesuatu yang baru aja. Saya pikir kalo terus berkutat di bidang yang sama dan nggak bergerak kemana-mana, window of opportunity kita juga nggak akan melebar dengan sendirinya.

    Lagipula, mengintegrasikan desain dengan bidang-bidang yang lain menurut saya sangat menyenangkan. Who knows what I might found?πŸ˜€

  4. SS Rabu, Agustus 9, 2006 pada 3:51 am #

    Ih, ada Abang.. :-”

    KILL, dont kick.. :-”

    *bunuh Abang* Weee…πŸ˜›

  5. herda Kamis, Agustus 10, 2006 pada 5:19 pm #

    Nyaa~~

    Guntar kenapa panggil SS dengan “mas” sih? ^^;;;;

    *penasaran*

  6. Mas Setiawan Kamis, Agustus 10, 2006 pada 5:28 pm #

    Aih, ada pembocor rahasia.. :-“

  7. aldi Jumat, Agustus 11, 2006 pada 1:03 am #

    @herda: masak harus dipanggil “om”? kasiyan kan ketuaan kesannya …

  8. herda Jumat, Agustus 11, 2006 pada 4:24 am #

    Bukannya emang udah tua ya? *siyul-siyul*

  9. Pak Setiawan Jumat, Agustus 11, 2006 pada 8:20 pm #

    Aih, ‘orang tua’ bukannya memang harusnya tua ya? Betul kan Aldi darling?πŸ˜‰πŸ˜‰

    Lagian, kalo anaknya masih SMP, orangtuanya bisa se-tua apa sih? :-“

  10. herda Sabtu, Agustus 12, 2006 pada 4:13 am #

    –;

    *injek-injek yang bisa diinjek*

  11. S Setiawan Sabtu, Agustus 12, 2006 pada 9:38 am #

    Aih, masa tega sih nginjek Papinya sendiri?

    *sodorin Aldi buat diinjek*

    :-”

    Aih, besok Mami ulang tahun ke 46.. :-” Kita MAKAN-MAKAN deh \:D/

  12. herda Sabtu, Agustus 12, 2006 pada 12:04 pm #

    o_O;

    46 ATAU 36? Setahu anaknya sih 36 ..πŸ˜•

    Aiiih.. sayah mah takut injek-injek mami ^^;;

  13. S Setiawan Minggu, Agustus 13, 2006 pada 4:54 am #

    Aih, sini deh, Papi wakilin acara injek-injeknya, soalnya Mami gak mau ngajak kita MAKAN-MAKAN.. :-”

    Aih, 36 ya? ^^;; Aduh, umur istri sendiri kok sayah bisa lupa ya? T-T

    Mana Mami ya? *celingukan* Happy 36th Birthday, darling..πŸ˜‰

  14. Vinsensius Kamis, Agustus 17, 2006 pada 12:38 pm #

    E-book gratis: Panduan Mengenal Desain Grafis. Silahkan download di:
    http://escaeva.com/ebooks.php

    Salam

  15. sunny Jumat, Juni 20, 2008 pada 11:22 am #

    mau tahu, MASJID AL-HIDAYAH jalan ketintang baru surabaya, gang …. SUrabaya,…
    lah……… disitulah aku berada.

  16. sunny Jumat, Juni 20, 2008 pada 11:23 am #

    MASJID AL HIDAYAH Jl. ketintang baru. ok

  17. susi Jumat, Juni 20, 2008 pada 11:26 am #

    semuanya mau minta bantuan neh.,,, dimana ya saya bisa mendapatkan atau bisa download driver spss 14 ya….? mohon kasih tahu dong ke alamat :
    http://www.212baca.wordpress.com
    makasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: