The Bedroom Talk

21 Agu

Homo ludens. Manusia adalah makhluk yang suka bermain. Main Play Station. Main sepakbola. Memainkan hati orang. Bermain peran alias roleplaying. Kita suka main apa saja, termasuk main tebak-tebakan.

Saya suka main tebak-tebakan. Khususnya tebak-tebakan karakter. Manusia adalah subyek tebak-tebakan yang paling menarik buat saya. Mungkin buat Anda juga.

Teman saya pernah naksir seorang wanita. Ia meminta saya untuk bermain tebak-tebakan dengan menganalisa isi organizer wanita itu. Wanita itu punya isi organizer yang sangat teratur. Dengan sedikit memperhatikan detail-detail kecil, dalam waktu singkat, saya bisa menyimpulkan bahwa teman saya dan wanita ini tidak cocok. Sang pria lebih suka main, yang wanita adalah orang yang serius. Mereka tetap jadian, dan putus beberapa bulan kemudian. Alasannya, si wanita terlalu kaku. Mungkin Anda juga pernah menemui atau mendengar tentang kasus serupa.

Sebuah tebakan sukses sering mengundang berbagai pertanyaan dan komentar. Beberapa orang bilang terkadang saya memiliki daya pengamatan yang bagus. Beberapa terkecoh dan mengira kemampuan main tebak-tebakan itu adalah sebuah bakat yang berkaitan dengan acara ramal-meramal. Yang jelas, saya hanya bisa mengatakan bahwa keduanya tidak berkaitan, hanya deduksi sederhana yang kebetulan benar. Beberapa dari kita memang suka tebak-tebakan. Tapi, soal benar atau tidak, buat saya itu tidak menjadi masalah besar. Inti dari bermain adalah bersenang-senang, betul?

Two Seconds Blink

Beberapa waktu yang lalu saya membaca ”Blink” karangan Malcolm Gladwell. Pak Gladwell memiliki teori untuk menjelaskan kemampuan saya. Tidak sepenuhnya pas, tapi agak cocok. Ia mengetengahkan sesuatu yang bernama ”snap judgment” –kesimpulan sekejap. Teorinya, kita dapat memiliki sebuah pemahaman akan sesuatu dalam waktu sekejap, say, 2 detik? Saya butuh waktu yang lebih lama untuk menyimpulkan karakter dari pemilik organizer tadi, tapi saya jelas melakukan penyimpulan tadi dalam waktu dibawah 2 menit. Too fast? I don’t know.

Ia mengkategorikan dua cara memperoleh pemahaman. Cuplikan tipis dan cuplikan tebal. Bila cuplikan tebal dapat disamakan dengan upaya memahami orang lain dengan berteman bertahun-tahun dengannya, maka, analisa saya dapat dikategorikan menjadi cuplikan tipis (thin slicing). Mengambil gambaran-gambaran mikroskopis dari hidup seseorang, dan melakukan pembesaran dari cuplikan itu, sehingga kita dapat memprediksi sesuatu, berbekal informasi yang sangat terbatas.

Saya yakin, banyak dari kita yang sering memanfaatkan thin slicing. Karena itulah, banyak orang yang sudah saling tidak menyukai, bahkan meski baru sekali bertemu. Alasannya bisa bermacam-macam, dan tidak selalu terdengar logis. Yang ini, mungkin sering dinamakan gut feelings. Yang jelas, setelah membaca ”Blink”, saya baru benar-benar menyadari bahwa snap judgment ini sangat berguna, dan saya telah sering sekali menggunakannya.

In The Bedroom

Dalam salah satu bab, Gladwell menulis tentang salah satu obyek tebak-tebakan yang sering kita mainkan. Kamar tidur. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang seseorang dari kamar tidurnya, baik kamar tidur orang yang sudah Anda kenal, atau yang asing sama sekali.

Samuel Gosling, seorang psikolog, membuat eksperimen yang berkaitan dengan thin slicing ini. Ia mengirim orang-orang untuk mendatangi beberapa kamar tidur, untuk mengetes, apakah mereka dapat menebak kepribadian dari si pemilik kamar. Kuesioner yang diberikannya mencakup lima hal.

(1) Extraversion. Senang bergaul atau lebih suka menyendiri? Senang menarik perhatian atau lebih suka diam?
(2) Agreeableness. Mudah percaya atau mudah curiga? Senang membantu atau enggan bekerjasama?
(3) Conscientiousness. Tertib atau urakan? Punya disiplin diri atau mudah dipengaruhi?
(4) Emotional stability. Mudah cemas atau tenang? Merasa tidak aman atau percaya diri?
(5) Openness to new experiences. Imajinatif atau praktis? Mandiri atau terikat peraturan?

Orang yang mengenal si pemilik kamar dapat memprediksi poin 1 dan 2 dengan baik. Tetapi mereka yang tidak mengenalnya sama sekali, terbukti dapat menebak poin 3,4, dan 5 dengan lebih akurat. Jadi, kita benar-benar bisa main tebak-tebakan dengan isi kamar tidur. Gosling membantu untuk menyimpulkan bahwa tidak mustahil bagi kita untuk memahami seseorang dengan lebih baik, meski kita belum mengenalnya sama sekali.

Gosling menambahkan, ada tiga petunjuk yang menurut saya dapat digunakan untuk menebak sifat pemilik sebuah kamar tidur. Pertama adalah identity claims, jatidiri yang diharapkan, ekspresi yang disengaja tentang bagaimana seharusnya kita tampak oleh dunia. Kedua, behavioral residue, petunjuk tak disengaja tentang sifat asli seseorang. Terakhir, thought and feeling regulators, perubahan-perubahan yang kita sengaja terhadap ruang-ruang paling pribadi kita untuk memengaruhi perasaan kita sewaktu berada di sana.

Misal, sebagai contoh, seorang teman kuliah saya yang berinisial WXY. Identity claims-nya adalah beberapa item yang berhubungan dengan sebuah MLM yang dijalaninya, serta buku-buku tebal yang tersusun rapi dibawah rak televisi dengan judul yang mencirikan jurusan tempatnya kuliah. Behavioral residue-nya adalah tempat tidur yang rapi dan meja kopi yang hampir selalu penuh dan berantakan. Thought and feeling regulators-nya adalah boneka babi ekstra besar berwarna pink yang ada diatas kasurnya. Apa yang kita dapat simpulkan dari hal-hal ini? Yang saya tahu, identitasnya sebagai mahasiswa/anggota MLM merupakan hal yang paling mudah disimpulkan. Kemudian, ia tahu bagaimana menyekat-nyekat masing-masing bagian kehidupannya. Ia dapat maju dengan sangat baik di satu bidang, tetapi rapuh di bidang yang lain (bed vs coffee table). Ia terampil menyembunyikan perasaan. Agak temperamen tetapi tenang. Ia juga memiliki orang dekat yang sangat berharga untuknya (bisa siapa saja), karena tidak semua orang mau membeli boneka yang ekstra besar untuk dirinya sendiri. Dan boneka itu ada diatas kasur, tidak disimpan di lemari. In reality, apa yang saya jabarkan sebagian besar benar.

Bagaimana dengan kamar Anda? Kalau kamar saya sendiri? Berantakan. Banyak tumpukan buku-buku tebal. Sebagian buku kuliah, sebagian buku desain, sisanya mengenai pengembangan diri, bisnis, ataupun buku lucu-lucuan. Ada satu plastik berisi kurang lebih tigapuluh spidol warna. Poster Van Helsing, Hellboy, dan Batman Begins ditempel di dinding. Terakhir, bantal dengan jumlah ekstra (orang normal umumnya punya 1-3 bantal, saya 4). Can you tell anything deep about this one? I hope you cant! :-“

21 Tanggapan to “The Bedroom Talk”

  1. kriwil Senin, Agustus 21, 2006 pada 1:22 pm #

    aih, saya punya 3 bantal dan 2 guling😀
    kamar saya? nanti aja ah pake skrinsyut😛

  2. S Setiawan Senin, Agustus 21, 2006 pada 2:00 pm #

    Aih, sendrinya aja udah kayak guling, kok masih maruk bantal sih? :-”

    *dibakar*

    Gyaa.. Lutuna..>:D

  3. herda keren Senin, Agustus 21, 2006 pada 2:24 pm #

    Nyaa~~ saya punya satu guling kecil, satu guling besar, satu bantal cinta, dua bantal biasa, lagi sekarat selimut :-“

  4. S Setiawan Senin, Agustus 21, 2006 pada 2:34 pm #

    Keluarga MARUK! *ROTFLMAO* :))

  5. wadehel Rabu, Agustus 23, 2006 pada 6:28 am #

    Kalau analisa kamar ini gimana:

    Tempat tidur itu tanpa bantal maupun guling, hanya sebuah selimut yang terlalu besar dan tebal dan bau yang belum juga sempat saya laundry.

    Kasur kecil itu fleksibel, dalam arti bila kasurnya diangkat, dibawahnya sudah ada alas tikar, jadi bisa juga dipakai tidur kalau lagi kurang tempat atau sekedar kepingin alas keras.

    Info tambahan: Itu kamar hanya di pel dan di sapu seminggu sekali atau setelah kedatangan banyak tamu yg jorok.

  6. Guntar Rabu, Agustus 23, 2006 pada 7:10 am #

    Waktu saya mbaca Blink, emg dalem sih isinya. Ada ilmu2 penaksiran perilaku yg belum saya kuasai. Termasuk posting sampean kali ini, amat menarik sekali🙂

    Klo saya, sepertinya lebih karena bakat, bisa mbaca orang dari fotonya. Lebih khususnya dari sorot mata kanan dan kirinya. Saya ndak bisa melogiskannya, cuman bisa merasakan emosi yg tampak ketika melihatnya.

    Tapi tentu menarik klo kita belajar menaksir perilaku dari hal2 yg bisa dg jelas dilihat pola2nya.

  7. aalinazar Rabu, Agustus 23, 2006 pada 7:20 am #

    mungkin akan lebih mudah menebaknya jika foto kamar anda dipajang di sini.
    Apa yg anda coba deskripsikan lewat kata-kata, bisa jadi menimbulkan bias, dan yg terlihat belum tentu anda sendiri, melainkan apa yg anda inginkan untuk ditebak oleh orang lain.

  8. S Setiawan Rabu, Agustus 23, 2006 pada 9:28 am #

    Bung Wadehel
    Analisa saya? Wah, situ malesyan, karena cuman mau ngepel dan nyapu seminggu sekali! *ROTFLMAO*😛

    *kena bakar*

    Eits, sibuk banget sampe kaga sempet ke laundry ya? Emang lagi sibuk apa sih? Sibuk merencanakan acara MAKAN-MAKAN untuk selametan karena jadi PNS ya? Eits, aye diajak juga dunks :-”

    Wakakaka..😀 *dibakar lagi*

    Entar deh bacanya. Satu pasien juga masih minta readingnya. Sampe sekarang masih shock karena pasien yang satu ini kamarnya terlalu-rapi-untuk-jadi-kenyataan. Dude, jaman sekarang makin banyak pria-pria berkamar rapih ya.. *lirik kamarnya sendiri* Kapan gw nyusul neh? Kayaknya susah.. –;

  9. S Setiawan Rabu, Agustus 23, 2006 pada 9:39 am #

    Mas Guntar
    Wah.. Kalo bakat, itu urusan lain lagi. Itu tebak-tebakan kelas canggih namanya!😀

    Yang jelas, buat saya, main tebak foto kerasa lebih serius daripada tebak kamar, soalnya kalo nggak jago, biasanya meleset brutal. Tapi sekalinya kena, duh.. Saya punya temen yang jago baca foto juga. Wakakaka.. Serem dah. Gak ikutan saya kalo yang dibaca udah aneh-aneh. Kalo baca kamar kan for fun aje..😀

    Oh, yesh, untung aye gak pasang foto disini.. :-”

    Kalo soal tebak-tebakan yang pake dasar pola, saya juga suka main tebak handwriting. Tapi karena nggak jago, yang bisa ditebak juga dikit. Masuk psikologi kayaknya lucu juga ya..😕

    Aih, lama-lama aye nulis soal ‘tebak-tebakan’ yang laen dah ini😛

    BTW, maen tebak-tebakan umur dong. Ada yang bisa menebak umur saya berapa? :-“

  10. S Setiawan Rabu, Agustus 23, 2006 pada 9:44 am #

    Bung Al
    Ya, itu dia, sayangnya, saya nggak punya kamar. Yang ini hasil jajahan soalnya.

    Yang punya kamar, kebetulan jarang pulang. Jadi, dalam masa kekosongan kekuasaan, saya memproklamirkan diri sebagai pemilik baru kamar tersebut. Isinya belum representatif, jadi saya jabarkan yang bener-bener hasil ‘modifikasi’ saya terhadap kamar itu. Ya, apa lagi kalau bukan keadaannya yang berantakan?😀

  11. goeve Rabu, Agustus 23, 2006 pada 1:56 pm #

    org yg suka baca

  12. S Setiawan Rabu, Agustus 23, 2006 pada 5:08 pm #

    Aih, begitulah, Mbak..😛

  13. Guntar Kamis, Agustus 24, 2006 pada 5:38 am #

    Klo kakak saya, kesaktiannya beda lagi; mbaca tanda tangan. Entah juga dasarnya gimana. Tapi tepat tuh; terutama utk yg umurnya belum mencapai 25, krn tanda tangannya masih bisa berubah pd masa2 itu😛

    Umur sampean 34 yach?🙄

    Saya juga punya skill lain yg belum amat terasah; meramal berat badan. Ini krn saya ikut fitness, program penurunan berat badan. Jadinya peka ama hitungan berat. Lalu berkembang ke peramalan berat badan wanita, dg memperhatikan tinggi badannya. Belum sampe sepuluh kali sih saya nebak, tapi bener terus tuh. Dg akurasi tepat, ndak selisih ama angka riilnya 8)

  14. S Setiawan Kamis, Agustus 24, 2006 pada 6:52 am #

    Kalo tanda tangan emang bisa ditebak. Dari bentuk, garis, intensitas ketebalan, arah garis, bla, bla.. Kalo buat saya, tanda tangan dipake untuk mendeteksi kalo ada sesuatu yang salah tentang seseorang. Ngga dipake ke orang lain sih, cuman untuk diri sendiri. Kalo tanda tangan saya mengalami perubahan, saya bisa tau kalau ada sesuatu yang ngga seimbang dalam hidup saya. Dan biasanya itu bener😀 Again, thin slicing prevails.

    And, oh, masa si cewek lebih jago thin slicing? Stereotype atau asumsi sesaat, atau udah ada yang neliti? Abisnya, saya ngetes orang rumah, yang cewe-cewe malah bilang kalo mereka gak jago thin slicing-thin slicing-an dan kalo dites, dodols semua..😛

  15. S Setiawan Kamis, Agustus 24, 2006 pada 7:23 am #

    BTW, Mas Guntar, itu udah tebakan fixed nih? Gak mau diganti lagi? :-” Wah, I’m flattered to be a thirtysomething –again..😀

    Boy, the kids are going to love it.. :-“

  16. Guntar Sabtu, Agustus 26, 2006 pada 9:56 am #

    Okai, klo gitu gimana klo 43 ? :mrgreen:

  17. SS Keren Sabtu, Agustus 26, 2006 pada 10:39 am #

    Wew..😀 BAKAR-BAKAR! :-” Yah, ketebak deh :-” Mau hadiah apa, Mas? :-“

  18. Guntar Selasa, Agustus 29, 2006 pada 3:36 am #

    Wah, entah juga nih, kenapa yg kelintas di benak saya mulek angka 3 ama 4:mrgreen:

    Saya mau hadiah postingan yang berkelanjutan, ndak pake hiatus. He..he…😛

  19. S Setiawan Selasa, Agustus 29, 2006 pada 8:22 am #

    Whoa, permintaan yang sangaaaattt berat untuk dipenuhi.. :-”

    Aih, saya kan penulis produktif (read: bawel). Buktinya hampir setiap minggu nulis sesuatu (yang ngga penting) kan? :-”

    Oh, iya, hadiah tebak-tebakannya belom aye kirim! Bentar ye..😀

  20. isdah Jumat, September 15, 2006 pada 1:31 pm #

    wah klo kamar saya selalu rapi, cuman tempat tidurnya yang selalu acak2an pasti ada 5 ato 7 buku di sana plus leptop… trus soalnya tiap hari sebelum tidur saya selalu membaca buku kadang nonton KAA😄 hihihihi….

  21. S Setiawan Sabtu, September 16, 2006 pada 3:38 am #

    Hohoho, ada Oom Isdah.. :-”

    Itu tandanya bukunya harus dihibahkan ke gw, biar gak menuh-menuhin kasur. Sekalian leptopnya. Tapi lebih bagus lagi kalo KAA-nya yang dihibahkan..😉😉😉

    Nyahahahah..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: