In Search of the Right Couch

19 Nov

“..orang zaman sekarang, dengan perkembangan zaman yang begitu pesat dan perubahan pandangan hidup, semangat independensinya lebih tinggi. Kita orangnya ga suka diatur, lebih banyak nuntut, ga pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang kita udah punya, selalu pengen dapet yang lebih bagus lagi, terus menerus mencari dan mencari (“mencari kebahagiaan” katanya), perfeksionis, ga tolerir terhadap kesalahan sekecil apapun.”

Itu, kata Mbak Devishanty.

Tiba-tiba saya teringat salah satu thread yang masih hangat di milis Gajah. Kak Trinie melemparkan salah satu pertanyaan klise itu, “Kenapa aku mesti jatuh sayang pada orang yang tidak pantas disayangi olehku?”

Soal “kenapa”-nya, yang bisa menjawab mungkin adalah si penanya itu sendiri. Tapi, untuk soal pantas atau tidak pantasnya seseorang untuk disayangi, itu masalah lain. Benar kata beberapa yang menjawab, pantas tidak pantas itu tergantung pada ukuran yang kita pakai.

“Jadi begini lho Trin, seriusli, menurut gua sih orang yang sudah seumuran kita-kita ini (27-up) sebenarnya udah boleh mulai berusaha menurunken standar, eliminasi pertanyaan yang seperti Trinie ajuken.
Mengapa?
IMHO, karena orang-orang ideal yang sayang-able pada udah nikah, mereka laku dini.
sisanya yang masih jomblo ya otomatis agak kurang memenuhi persyaratan baik untuk disayang maupun menyayang, ada aja yang kurang sempurna. Ya namanya aja sisa gitu lokh, Trin. ” Menurut Oom Jipeng (pendapat yang sangat lucu, membuat saya tertawa terbahak-bahak saat baca pertama kali), itu adalah urusan standar, “Kalau standar kita turun, gag akan muncul pertanyaan: mengapa gua jatoh sayang pada orang yang salah?
Dengan kata lain: turun standar = always worth it walaupun yang disayangi adalah obyek low kwalitet,” tambahnya. Satu jalur dengan apa yang dibilang oleh Mbak Devishanty di blognya.

Standards are about living up to our own expectations.

Itu menurut saya. Mungkin bisa disamakan dengan membangun rumah. Kita mendesain sebuah rumah sesuai dengan keinginan ataupun kebutuhan kita. Kita sudah menentukan secara spesifik bentuk bangunannya, tata ruangnya, warna, dan detail-detail kecil lainnya. Yang membuatnya menjadi tricky adalah, semua rumah butuh perabot. Misalnya, Anda punya rumah tipe minimalis berwarna hijau. Suatu hari Anda jatuh cinta dengan sofa besar warna merah, lalu Anda membeli dan membawanya pulang. Sampai di rumah, sofa itu tidak muat di ruang tamu Anda, bahkan tidak bisa dimasukkan lewat pintu. Belum lagi soal warnanya yang tidak match dengan cat dinding Anda. Anda menjadi frustasi. The sofa can’t live through your standards. Apa ini berarti sofa ini tidak layak pakai? Tidak selalu. Mungkin tetangga sebelah yang punya rumah besar bercat oranye punya tempat untuk sofa itu.

Cara mengakalinya, setahu saya dan setahu semua buku-buku psikologi (atau desain interior? hehehe.. :P) yang saya punya hanya ada tiga: pasrah dan memaksa diri untuk menyesuaikan struktur rumah dengan karakter si sofa, memaksa tukang sofa untuk mengganti warnanya dengan warna lain yang lebih pas, terakhir, buang saja sofanya atau berikan ke tetangga. Dan teori ini juga berlaku untuk anggota keluarga Anda, teman Anda, kenalan Anda, atau siapapun itu. Tentunya, tanpa harus benar-benar menyamakan mereka dengan sofa.

Anda semua yang membaca ini, kemungkinan besar pernah mengalami masalah dengan sofa-sofa ini. Ada sofa yang high-maintenance. Ada sofa yang playboy. Ada sofa yang egois. Ada sofa yang terlalu emosional. Ada sofa yang rese. Ada juga sofa yang lebih mirip kulkas. Semua sofa ini tidak cocok diletakkan di ruang tamu Anda. Tapi seburuk-buruknya sofa-sofa ini, mereka semua pasti telah memberikan pelajaran penting. Ia bisa memberi tahu warna apa yang harus Anda hindari. Ia juga dapat memberi tahu kalau ada yang salah dengan ukuran pintu atau ruang tamu Anda. Ia juga bahkan dapat memberikan Anda inspirasi untuk renovasi. And not all changes are bad.

I like my current couch. Salah warna. Salah ukuran. Salah bentuk. Salah model. Yah, pokoknya banyak yang salah deh (dan kesalahan bukan pada rumah atau sofanya, karena memang, they both simply doesn’t match). Tapi sangat nyaman diduduki, entah kenapa. Dan mumpung truk pengangkut perabotnya belum datang, saya mau duduk-duduk dulu di teras dengan sofa ini. Not living up to our standards are not always bad.

14 Tanggapan to “In Search of the Right Couch”

  1. Ireth Senin, November 20, 2006 pada 11:22 am #

    Wow… lo udah punya sofa sendiri?O_o; sejak kapan? Dapet di mana tuh sofanya😛

    Kalo gw termasuk sofa yang mana, dunks? *kedip”*

  2. Setiawan Senin, November 20, 2006 pada 12:20 pm #

    Sofa itu kan bisa merepresentasikan banyak hal, duh.. Pasti mikirnya yang nggak2 deh – -;; *sigh*

    Loe? Sofa yang berwarna ungu :-“

  3. Lily Selasa, November 21, 2006 pada 8:20 am #

    Aku warna apa, pi?
    Weleh, udah mulai suka jual-beli sofa neh, bisnis ya? *salah tangkep*

  4. Setiawan Selasa, November 21, 2006 pada 12:43 pm #

    Ah, bisnis furniture sih sedang lesu, nak.. :-”

    Tapi, jual sofa? Okelah. Gimana kalo sofamu aja yang dijual? :-”
    *ditimpukin* Ya, kan Papi nggak mungkin jual sofa Papi, soalnya sofa Papi fiturnya adalah laptop :-”

    Laptop adalah fitur(tm)

    WAKAKAKAKAKA =))

    Loh, ini lagi bahas sofa, nak. Bukan warna (lagi). Tapi, kalo kamu dijadiin sofa sih, pasti jadinya sofa mini. Lha wong kamu kecil begitu kok.. :-”

    *ngaburrrr*

  5. Ireth Selasa, November 21, 2006 pada 4:54 pm #

    Aduh Jeung… emang saya mikir apaan😛

    Sofa Ungu? Udah pasti xD

  6. lily Rabu, November 22, 2006 pada 8:11 am #

    Sofa mini?? Yang kerenan dikit dong pi, lebih spesifik dooong….Kalo papi sofa apa??😀

  7. Setiawan Rabu, November 22, 2006 pada 5:49 pm #

    Papi? Sofa yang keras. Jelas. Emang enak gituh ndudukin sayah? Sofa paling enak memang hanya Mami :-”

    *ditimpuks*

  8. Lily Jumat, November 24, 2006 pada 6:12 am #

    Aih….emang😛.
    Kalau sofa yang kemaren kubawa ituh gimana?
    Keras sih, tapi bagus ga??
    Aih, cinta mati deh sama sofa yang itu, mahal sih, mau mintanya aja malunya setengah mati :”>.

  9. Setiawan Jumat, November 24, 2006 pada 3:00 pm #

    Ah, sofamu duduls ahhh.. GANTI SOFA! GANTI SOFA! :-”

    Ajarin dulu, kepanjangan dari URL itu apah :-“

  10. herda Sabtu, November 25, 2006 pada 8:36 am #

    eh gwe aja ga tahu lho url itu singkatan dari apa😀 Meskipun tahu itu apah :”>

  11. Setiawan Senin, November 27, 2006 pada 11:54 am #

    Uniform Resource Locater, baby😉

  12. Ireth Selasa, November 28, 2006 pada 7:19 am #

    *lempar Herda*

    *kasih S bom bau*

    *iseng gak jelas T_T*

  13. herda Selasa, November 28, 2006 pada 2:22 pm #

    daripada gwe dilempar-lempar, gimana kalo .. situ cerita sajah kemaren gathnya gimana?>:D

Trackbacks/Pingbacks

  1. Siapa Yang Tidak Pantas? « Disclaimer to … - Senin, November 20, 2006

    […] Kalimat itu dipertanyakan oleh yang bersangkutan. Kemudian direspon oleh yang lain. Dan ada pula yang membahasnya. Dari ketiga hal ini, gwe jadi mikir. Ini gwe yang salah dalam memandang dan menarik kesimpulan atau mereka yang salah? Atau mungkin sang penanya sendiri yang salah dalam berkata? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: