Arsip | April, 2007

Jakarta. Kemarin Pagi.

26 Apr

Beberapa ratus kilometer dari sana, saya melihatnya terduduk di kamarnya yang suram, menitikkan air mata. Setelah itu, untuk pertama kalinya, saya baru memahami apa yang kami bagi berdua.

Kalau sakit yang kurasakan dapat mengurangi beban yang dipikulnya sendirian, maka jadikanlah demikian, Tuhan.

– Jakarta, keesokan harinya, dini hari.

Iklan

Johari Window

23 Apr

Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.

Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.

Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.  (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others)
Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.  (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self)
Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.  (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others)
Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.  (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)

Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.

Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.

Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.

Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita:

– Threat tends to decrease awareness; mutual trust tends to increase awareness
– Forced awareness (exposure) is undesirable and usually innefective
– Interpersonal learning means a change has taken place so that Quadrant 1 is larger, and one or more of the other quadrants has grown smaller
– Sensitivity means appreciating the covert aspects of behavior, in Quadrants 2, 3, and 4 and respecting the desire of others to keep them so (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969)

(diterjemahkan bebas dari Ruben and Stewart, Communication and Human Behavior, 4th ed. Allyn & Bacon, MA: 1998, p. 240-41 dan Johari Window di Wikipedia)

PS: Terjemahan ini dibuat untuk mereka-mereka yang sepertinya selalu nyangkut di blog ini dengan keyword Johari Window atau Jendela Johari. Semoga ini bisa membantu. Kalau ada yang kurang, sila tinggalkan komentar dan saran di commentbox ini. Thanks.

The Trash Can Talk(s)

23 Apr

Entah kenapa, saya sering sekali menghadapi skenario begini: saya sedang santai, tidak ada kerjaan, atau sedang sekadar menikmati hidup dengan leyeh-leyeh. Tiba-tiba telepon saya berdering, pintu saya diketuk, atau pundak saya ditepuk. Kemudian, dengan brutalnya, teman saya tiba-tiba curhat. Tanpa meminta persetujuan saja, tanpa peduli sebenarnya saya mau dengar ceritanya atau tidak.  Mungkin beberapa dari Anda pernah punya nasib serupa. Alih-alih dilihat sebagai manusia, malah dianggap sebagai keranjang sampah. Keranjang sampah? Kok jelek sekali sebutannya? 😛

Seorang teman saya pernah berkata, saya adalah tempat sampah terbaik yang ia pernah punya. Ya, tempat sampah. Tempat untuk membuang barang-barang yang tidak penting, tidak dibutuhkan, atau tidak disukai. Tempat sampah dengan tingkat tertinggi, disebut oleh orang-orang di sekitarnya sebagai psikolog amatir. Dicari pria, dibutuhkan wanita 😉 *ditimpuks* Yang apes, kalau Anda benar-benar hanya jadi tempat sampah. Setelah capek dicurhati, lalu ditinggal pergi. Boro-boro dibeliin es teh..

Tapi apakah jadi kantong curhat di tingkat bawah itu artinya keberadaan ada seperti tombol kepslok saja? Ada bagus, tak ada juga tidak apa-apa? Ya, terserah(tm) Anda sih, tergantung sudut pandangnya 😛

Yang jelas, tanpa reward seperti dibelikan nasi goreng dua porsi atau ucapan terimakasih muach muach :-*(tm), sebenarnya melalui kemampuan orang lain untuk bercerita kepada Anda, keranjang-keranjang sampah di luar sana, mereka sudah menunjukkan apresiasinya terhadap Anda.

Jelas, tidak semua orang bisa jadi tempat sampah yang baik.

Yang jelas, urusan curhat-curhatan, ungkapan diri, atau istilah kerennya, self-disclosure, punya tempat tersendiri yang spesial dalam urusan komunikasi.

Lalu, kenapa jadi tempat sampah justru membuktikan bahwa Anda bukan sekadar tempat untuk buang-buang yang tidak penting? Ya, jelas, karena sampah itu berasal dari makhluk kompleks yang bernama manusia, dimana, semua sampah bukan benar-benar sampah (ya iyalah, kalau tidak, mana mungkin psikolog rela menyelam timbul tenggelam dalam sampahan manusia, seperti belajar soal parapraxis, semisal? *ditimpuk Freud* :P). Karena menurut riset, disclosure dipicu oleh hal-hal ini:

– Disclosure increases with increased intimacy
– Disclosure increases when rewarded
– Disclosure increases with the need to reduce uncertainty in a relationship
– Disclosure tends to be reciprocated
– Women tends to disclose more than men
– Women disclose more to individuals they like
– Men disclose more to individuals they trust
– Disclosure is regulated by rules of appropriateness
– Attraction is related to positive disclosures but not to negative disclosure
– Negative disclosure occurs with greater frequency in highly intimate settings than in less intimate ones
– Relationship satisfaction is greatest when there is moderate–rather than a great deal or very little–disclosure.

(*kutip sajalah* Based on summary provided by Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Third ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 1989), p. 161, adapted from Shirley J. Gilbert, “Empirical and Theoretical Extensions of Self-Disclosure,” in Explorations in Interpersonal Communication. Ed. by Gerald R. Miller (Beverly Hills: Sage, 1976), pp. 197-216) -tentu saja, dikutip tanpa izin 😛

Tidak semuanya klop dengan konteks yang Anda alami, tentu. Tapi dari sekelumit gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa disclosure, pengungkapan, bukanlah hal yang main-main. Ada poin-poin seperti ketertarikan, rasa percaya, imbalan, tingkat hubungan, dan lain-lainnya. Anda perlu memenuhi beberapa kriteria untuk dapat menjadi tempat sampah yang pantas untuk orang lain. Apalagi, Anda bisa mengetahui hal-hal paling personal dari orang lain dengan melihat apa isi dari tempat sampahnya. Knowledge is power, lho (asal jangan tiru-tiru Casanova di Kiss The Girls saja :P) Betapapun tidak enaknya jadi tempat penampung keluh kesah, ternyata penghargaannya cukup besar juga, meski tidak selalu terlihat.

*5:17 AM, masih tetap menunggu kantuk sialan yang tidak mau datang juga*

Children Learn What They Live?

23 Apr

If a child lives with criticism
He learns to condemn

If a child lives with hostility
He learns to fight

If a child lives with ridicule
He learns to be shy

If a child lives with shame
He learns to be guilty

If a child lives with tolerance
He learns to be patient

If a child lives with encouragement
He learns confidence

If a child lives with praise
He learns to appreciate

If a child lives with fairness
He learns justice

If a child lives with security
He learns to have faith

If a child lives with approval
He learns to like himself

If a child lives with acceptance and friendship
He learns to find love in the world.

(Dorothy Law Nolte, “Children Learn What They Live,” in Looking Out/Looking In. Ed. by Ron Adler and Neil Towne (San Fransisco: Holt, 1975), p.43) -dikutip tanpa izin dari penulisnya 😛

It’s probably true. It’s probably not very true. But I can’t say that it’s wrong. How we were brought up deeply affects our personality and the possible outcome as we grow older. I do believe in nurture theory. But somewhere, deep down, we always felt that, somehow, a rather big part of what we found in our personality came from something else.

Changes are possible. But what if, for the scientist in all of us, we are what is written in our DNA code, for example. Or for the superstitious, we are our birth dates, constellation of the stars.

Or the explanation is, what we have in our nurture, showed and highlighted some tendencies that we have and sinked the unexplored?

Are my friends mattered? Are my siblings mattered? Are my parents mattered?  Are they taking up a significant part in developing who I am today? Well, they all do. But then, how much?

*4:27AM, iseng menulis sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang menjelang*

After Ten Years

23 Apr

Tiba-tiba saya merasa begitu takut kehilangan dia.

STING – When We Dance

17 Apr

If he loved you
Like I love you
I would walk away in shame
I’d move town, I’d change my name

When he watches you
When he comes to buy your soul
On your hand his golden rings
Like he owns a bird that sings

When we dance
Angels will run and hide their wings

The priests have said my soul’s salvation
Lies in the balance of the angels
And underneath the wheels of passion
I keep the faith in my fashion

When we dance
Angels will run and hide their wings

I’m still in love with you

When we dance
Angels will run and hide their wings

I’m gonna love you more than life
If you’ll only be my wife
I’m gonna love you night and day
I’m gonna try in every way

When we dance
Angels will run and hide their wings

I’m gonna find a place to live
Give you all I’ve got to give
I would love you more than life
If you’ll only be my wife

If I could break down these walls
And shout my name at heaven’s gate
I’d take these hands
And I’d destroy the dark machineries of fate,
The vehicles are broken
Heaven’s the one above
Hellfire’s a promise away
I’d still be saying
I’m still in love

He won’t love you
Like I love you
He won’t care for you this way
He’ll mistreat you if you stay

Come and live with me
We’ll have children of our own
I would love you more than life
If you’d come and be my wife

When we dance
Angels will run and hide their wings

I’m gonna love you more than life
If you’ll only be my wife
I’m gonna love you night and day
I’m gonna try in every way

When we dance
Angels will run and hide their wings

I’m gonna find a place to live
Give you all I’ve got to give
I would love you more than life
If you’d only be my wife

PS: Lho, kan sudah punya istri? Masih cari lagi? Huahuahua, ya ndak lah =))  Lagi suka aja sama lagu ini. Dan liriknya, kacau dah ah.. =)) Lha, trus kalo mau ganti nama, jadi siapa? Ya, tinggal pilih lah, mau jadi Mas Set(tm) atau jadi Bu Set(tm). Kan fleksibel tuh, bisa jadi Oom, bisa jadi Tante *takol Awan* =))

If he loved you
Like I love you
I would walk away in shame
I’d move town, I’d change my name

1404

17 Apr

Sabtu yang lalu, ketika tengah asik-asiknya mengetik suckripsux nista, tiba-tiba saya mendapat panggilan darurat. Kirain penting, nggak taunya pemberitahuan bahwa saya mau diculik sama mBunda (mBu + Bunda) *sigh* Rute hari itu adalah Resepsinya Ucoq – TMII – Starbak – Burger n Grillz. Oiya, dalam satu hari, saya menerima hibah 3 item: kaos polo hitam yang dicolong dari mBu, iket rambut Hendro yang lupa gw balikin, dan pin dari Deden (horeee, makasih ya, Den.. 😀 )

Males nulis ah, laporan selengkapnya baca di sini aja. Mending pasang-pasang poto narsis aja.. 😛

Foto-foto oleh Herry dan mBu.