The Trash Can Talk(s)

23 Apr

Entah kenapa, saya sering sekali menghadapi skenario begini: saya sedang santai, tidak ada kerjaan, atau sedang sekadar menikmati hidup dengan leyeh-leyeh. Tiba-tiba telepon saya berdering, pintu saya diketuk, atau pundak saya ditepuk. Kemudian, dengan brutalnya, teman saya tiba-tiba curhat. Tanpa meminta persetujuan saja, tanpa peduli sebenarnya saya mau dengar ceritanya atau tidak.  Mungkin beberapa dari Anda pernah punya nasib serupa. Alih-alih dilihat sebagai manusia, malah dianggap sebagai keranjang sampah. Keranjang sampah? Kok jelek sekali sebutannya?😛

Seorang teman saya pernah berkata, saya adalah tempat sampah terbaik yang ia pernah punya. Ya, tempat sampah. Tempat untuk membuang barang-barang yang tidak penting, tidak dibutuhkan, atau tidak disukai. Tempat sampah dengan tingkat tertinggi, disebut oleh orang-orang di sekitarnya sebagai psikolog amatir. Dicari pria, dibutuhkan wanita😉 *ditimpuks* Yang apes, kalau Anda benar-benar hanya jadi tempat sampah. Setelah capek dicurhati, lalu ditinggal pergi. Boro-boro dibeliin es teh..

Tapi apakah jadi kantong curhat di tingkat bawah itu artinya keberadaan ada seperti tombol kepslok saja? Ada bagus, tak ada juga tidak apa-apa? Ya, terserah(tm) Anda sih, tergantung sudut pandangnya😛

Yang jelas, tanpa reward seperti dibelikan nasi goreng dua porsi atau ucapan terimakasih muach muach :-*(tm), sebenarnya melalui kemampuan orang lain untuk bercerita kepada Anda, keranjang-keranjang sampah di luar sana, mereka sudah menunjukkan apresiasinya terhadap Anda.

Jelas, tidak semua orang bisa jadi tempat sampah yang baik.

Yang jelas, urusan curhat-curhatan, ungkapan diri, atau istilah kerennya, self-disclosure, punya tempat tersendiri yang spesial dalam urusan komunikasi.

Lalu, kenapa jadi tempat sampah justru membuktikan bahwa Anda bukan sekadar tempat untuk buang-buang yang tidak penting? Ya, jelas, karena sampah itu berasal dari makhluk kompleks yang bernama manusia, dimana, semua sampah bukan benar-benar sampah (ya iyalah, kalau tidak, mana mungkin psikolog rela menyelam timbul tenggelam dalam sampahan manusia, seperti belajar soal parapraxis, semisal? *ditimpuk Freud* :P). Karena menurut riset, disclosure dipicu oleh hal-hal ini:

– Disclosure increases with increased intimacy
– Disclosure increases when rewarded
– Disclosure increases with the need to reduce uncertainty in a relationship
– Disclosure tends to be reciprocated
– Women tends to disclose more than men
– Women disclose more to individuals they like
– Men disclose more to individuals they trust
– Disclosure is regulated by rules of appropriateness
– Attraction is related to positive disclosures but not to negative disclosure
– Negative disclosure occurs with greater frequency in highly intimate settings than in less intimate ones
– Relationship satisfaction is greatest when there is moderate–rather than a great deal or very little–disclosure.

(*kutip sajalah* Based on summary provided by Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Third ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 1989), p. 161, adapted from Shirley J. Gilbert, “Empirical and Theoretical Extensions of Self-Disclosure,” in Explorations in Interpersonal Communication. Ed. by Gerald R. Miller (Beverly Hills: Sage, 1976), pp. 197-216) -tentu saja, dikutip tanpa izin😛

Tidak semuanya klop dengan konteks yang Anda alami, tentu. Tapi dari sekelumit gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa disclosure, pengungkapan, bukanlah hal yang main-main. Ada poin-poin seperti ketertarikan, rasa percaya, imbalan, tingkat hubungan, dan lain-lainnya. Anda perlu memenuhi beberapa kriteria untuk dapat menjadi tempat sampah yang pantas untuk orang lain. Apalagi, Anda bisa mengetahui hal-hal paling personal dari orang lain dengan melihat apa isi dari tempat sampahnya. Knowledge is power, lho (asal jangan tiru-tiru Casanova di Kiss The Girls saja :P) Betapapun tidak enaknya jadi tempat penampung keluh kesah, ternyata penghargaannya cukup besar juga, meski tidak selalu terlihat.

*5:17 AM, masih tetap menunggu kantuk sialan yang tidak mau datang juga*

7 Tanggapan to “The Trash Can Talk(s)”

  1. isdah ahmad Rabu, April 25, 2007 pada 8:24 am #

    oooww… jadi leyeh” gag ngerjain suckripsi!

    *kabooor naek skuter sebelon dibakar*

  2. Setiawan Rabu, April 25, 2007 pada 10:15 am #

    Emang :-” *bangga* *tusuk ban skuternya*

  3. Lily Selasa, Mei 1, 2007 pada 8:35 am #

    Euh, sayah mengerti hal yang inih…. T.T
    Memang kadang nyebelin kalo kita dicurhatin melulu, tapi lalu gak bisa bales curhat T.T

  4. S Setiawan Kamis, Mei 3, 2007 pada 6:11 am #

    Halah, ini juga pasti curhat colongan!😛

  5. Lily Kamis, Mei 3, 2007 pada 8:24 am #

    Ihh, berisik, berisik :-“

  6. Setiawan Kamis, Mei 3, 2007 pada 9:42 am #

    Biyarin :-” *uyel-uyel anaknya*

  7. Lily Jumat, Mei 11, 2007 pada 2:05 am #

    *menghindar*
    *kabuur*
    *balik lagi*
    *angkat-angkat Papinya :-“*
    *kabur beneran*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: