Arsip | 6:06 am

There’s Something About Spider-Man 3

3 Mei

..that I don’t like 😛

Saya terdengar kecewa? Memang.

Sam Raimi telah menghasikan film pertama dan kedua dari trilogi ini dengan baik. Spider-Man dan Spider-Man 2 menjadi film yang menurut saya sukses, baik diatas scorecard ataupun di box-office chart. Yang jelas keduanya berhasil menjadi film memorable yang tetap enak ditonton meski sudah pernah dilihat berkali-kali.

Now, Spider-Man 3?

WARNING: Saya akan mencoba membahasnya dengan meminimalisasi spoiler, ..tapi bukan berarti spoiler-nya tidak ada. Manusia mudah alpa, but watch me trying. Jadi, yang minat baca, read on 😛

Kenapa saya tidak sreg dengan penutup trilogi ini:

Terlalu banyak plot. Beberapa sebenarnya tidak perlu. Kita tahu ada 3 villain yang ditampilkan disini, yaitu Green Goblin Jr (Harry Osborne), Sand Man (Flint Marko), dan Venom (Eddie Brock). Saat mendengarnya pertama kali, saya sudah mengernyitkan dahi. Bagaimana caranya Raimi bisa memaksimalisasi durasi waktu dengan 3 villain, 1 superhero dengan kehidupan rumit, dan plot yang pasti banyak dan overlapping? Raimi bisa melakukannya, hebatnya, tapi jelas tidak dengan sempurna. Sorry, pal. But sometimes too much is too much.
Gwen Stacy. Penting? Atau tidak penting? Kelihatannya signifikan untuk plot yang ada saat ini, tapi kok saya merasa si cantik ini cuman dijadikan pemanis layar saja ya? Kalau tidak ada Gwen, plot jelas akan berubah banyak, tetapi itu bisa dimanfaatkan tim penulis untuk membuat cerita yang lebih terfokus. IMHO.
Drama. Raimi jelas tidak sepiawai Christopher Nolan (sutradara Batman Begins), semisal, dalam penggarapan film yang berkisah tentang pergulatan batin. Beberapa kali akting para pemainnya terasa tidak pas, kurang dalam. Dan Peter? Hanya segitu sajakah? Padahal eksplorasi yang bisa dilakukan terhadap Parker dan alter egonya, si manusia laba-laba, bisa dilakukan lebih dalam. Adegan perubahan yang ditunjukkan setelah symbiote melekat padanya terasa sangat cliche. We’ve seen that kinda scene before, Sam 😛
Trailer vs movie. Trailer-nya menurut saya lebih keren dari filmnya. Kenapa? Karena saat itu ekspetasi saya tinggi, dan trailer-nya seakan berjanji akan menampilkan sisi lain Peter Parker yang kelam. Saya agak kecewa, karena dengan terlalu banyaknya plot, flashback, dan drama yang kurang pas tempatnya, saya tidak mendapatkan hal itu.
End scene. So, that was the finish? Uh, okay.. *sigh*

Even so, Spidey pasti akan meraup uang berlimpah dan duduk berlama-lama di puncak box-office. Antisipasi terhadap film ini memang luar biasa!

So, give us the good news! Okay, here you go:

Spesial efek sudah mengalami peningkatan, terlihat jauh lebih smooth dan tidak sekaku jilid satu dan duanya. Banyak eye candy.
Aksi yang ditampilkan cukup mengasyikkan. Adegan laganya sudah oke. It’s action packed, and you guys will love it for that. Cause I do 😀
Humor. Selera humor Spidey yang biasa ditampilkan disini. Beberapa humor memang mungkin terasa agak maksa. Tapi ada beberapa yang cukup segar dan original. I just LOVE that buzzer on JJ’s desk! =))
Moral of the story. Tidak bisa menggantikan pelajaran PPKn, tapi memang niatnya cukup bagus. This movie’s got the heart. Bring your kids along.

So, that’s it? Well, I think it preety much sums it up. Yang jelas, film ini tetap harus ditonton. Ya, masa sih enggak? Kecuali Anda adalah kaum pembenci film mainstream dan tidak merasa rugi kalau tidak nonton trilogi ini sampai selesai, jelas 😛 Tidak setuju dengan saya? Ya nggak papa, saya kan cuman komen. Hihihihi..

Enjoy the movie 😀