Arsip | Scraps RSS feed for this section

There’s Something About Spider-Man 3

3 Mei

..that I don’t like 😛

Saya terdengar kecewa? Memang.

Sam Raimi telah menghasikan film pertama dan kedua dari trilogi ini dengan baik. Spider-Man dan Spider-Man 2 menjadi film yang menurut saya sukses, baik diatas scorecard ataupun di box-office chart. Yang jelas keduanya berhasil menjadi film memorable yang tetap enak ditonton meski sudah pernah dilihat berkali-kali.

Now, Spider-Man 3?

WARNING: Saya akan mencoba membahasnya dengan meminimalisasi spoiler, ..tapi bukan berarti spoiler-nya tidak ada. Manusia mudah alpa, but watch me trying. Jadi, yang minat baca, read on 😛

Kenapa saya tidak sreg dengan penutup trilogi ini:

Terlalu banyak plot. Beberapa sebenarnya tidak perlu. Kita tahu ada 3 villain yang ditampilkan disini, yaitu Green Goblin Jr (Harry Osborne), Sand Man (Flint Marko), dan Venom (Eddie Brock). Saat mendengarnya pertama kali, saya sudah mengernyitkan dahi. Bagaimana caranya Raimi bisa memaksimalisasi durasi waktu dengan 3 villain, 1 superhero dengan kehidupan rumit, dan plot yang pasti banyak dan overlapping? Raimi bisa melakukannya, hebatnya, tapi jelas tidak dengan sempurna. Sorry, pal. But sometimes too much is too much.
Gwen Stacy. Penting? Atau tidak penting? Kelihatannya signifikan untuk plot yang ada saat ini, tapi kok saya merasa si cantik ini cuman dijadikan pemanis layar saja ya? Kalau tidak ada Gwen, plot jelas akan berubah banyak, tetapi itu bisa dimanfaatkan tim penulis untuk membuat cerita yang lebih terfokus. IMHO.
Drama. Raimi jelas tidak sepiawai Christopher Nolan (sutradara Batman Begins), semisal, dalam penggarapan film yang berkisah tentang pergulatan batin. Beberapa kali akting para pemainnya terasa tidak pas, kurang dalam. Dan Peter? Hanya segitu sajakah? Padahal eksplorasi yang bisa dilakukan terhadap Parker dan alter egonya, si manusia laba-laba, bisa dilakukan lebih dalam. Adegan perubahan yang ditunjukkan setelah symbiote melekat padanya terasa sangat cliche. We’ve seen that kinda scene before, Sam 😛
Trailer vs movie. Trailer-nya menurut saya lebih keren dari filmnya. Kenapa? Karena saat itu ekspetasi saya tinggi, dan trailer-nya seakan berjanji akan menampilkan sisi lain Peter Parker yang kelam. Saya agak kecewa, karena dengan terlalu banyaknya plot, flashback, dan drama yang kurang pas tempatnya, saya tidak mendapatkan hal itu.
End scene. So, that was the finish? Uh, okay.. *sigh*

Even so, Spidey pasti akan meraup uang berlimpah dan duduk berlama-lama di puncak box-office. Antisipasi terhadap film ini memang luar biasa!

So, give us the good news! Okay, here you go:

Spesial efek sudah mengalami peningkatan, terlihat jauh lebih smooth dan tidak sekaku jilid satu dan duanya. Banyak eye candy.
Aksi yang ditampilkan cukup mengasyikkan. Adegan laganya sudah oke. It’s action packed, and you guys will love it for that. Cause I do 😀
Humor. Selera humor Spidey yang biasa ditampilkan disini. Beberapa humor memang mungkin terasa agak maksa. Tapi ada beberapa yang cukup segar dan original. I just LOVE that buzzer on JJ’s desk! =))
Moral of the story. Tidak bisa menggantikan pelajaran PPKn, tapi memang niatnya cukup bagus. This movie’s got the heart. Bring your kids along.

So, that’s it? Well, I think it preety much sums it up. Yang jelas, film ini tetap harus ditonton. Ya, masa sih enggak? Kecuali Anda adalah kaum pembenci film mainstream dan tidak merasa rugi kalau tidak nonton trilogi ini sampai selesai, jelas 😛 Tidak setuju dengan saya? Ya nggak papa, saya kan cuman komen. Hihihihi..

Enjoy the movie 😀

Iklan

Johari Window

23 Apr

Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.

Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.

Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.  (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others)
Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.  (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self)
Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.  (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others)
Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.  (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)

Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.

Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.

Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.

Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita:

– Threat tends to decrease awareness; mutual trust tends to increase awareness
– Forced awareness (exposure) is undesirable and usually innefective
– Interpersonal learning means a change has taken place so that Quadrant 1 is larger, and one or more of the other quadrants has grown smaller
– Sensitivity means appreciating the covert aspects of behavior, in Quadrants 2, 3, and 4 and respecting the desire of others to keep them so (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969)

(diterjemahkan bebas dari Ruben and Stewart, Communication and Human Behavior, 4th ed. Allyn & Bacon, MA: 1998, p. 240-41 dan Johari Window di Wikipedia)

PS: Terjemahan ini dibuat untuk mereka-mereka yang sepertinya selalu nyangkut di blog ini dengan keyword Johari Window atau Jendela Johari. Semoga ini bisa membantu. Kalau ada yang kurang, sila tinggalkan komentar dan saran di commentbox ini. Thanks.

The Trash Can Talk(s)

23 Apr

Entah kenapa, saya sering sekali menghadapi skenario begini: saya sedang santai, tidak ada kerjaan, atau sedang sekadar menikmati hidup dengan leyeh-leyeh. Tiba-tiba telepon saya berdering, pintu saya diketuk, atau pundak saya ditepuk. Kemudian, dengan brutalnya, teman saya tiba-tiba curhat. Tanpa meminta persetujuan saja, tanpa peduli sebenarnya saya mau dengar ceritanya atau tidak.  Mungkin beberapa dari Anda pernah punya nasib serupa. Alih-alih dilihat sebagai manusia, malah dianggap sebagai keranjang sampah. Keranjang sampah? Kok jelek sekali sebutannya? 😛

Seorang teman saya pernah berkata, saya adalah tempat sampah terbaik yang ia pernah punya. Ya, tempat sampah. Tempat untuk membuang barang-barang yang tidak penting, tidak dibutuhkan, atau tidak disukai. Tempat sampah dengan tingkat tertinggi, disebut oleh orang-orang di sekitarnya sebagai psikolog amatir. Dicari pria, dibutuhkan wanita 😉 *ditimpuks* Yang apes, kalau Anda benar-benar hanya jadi tempat sampah. Setelah capek dicurhati, lalu ditinggal pergi. Boro-boro dibeliin es teh..

Tapi apakah jadi kantong curhat di tingkat bawah itu artinya keberadaan ada seperti tombol kepslok saja? Ada bagus, tak ada juga tidak apa-apa? Ya, terserah(tm) Anda sih, tergantung sudut pandangnya 😛

Yang jelas, tanpa reward seperti dibelikan nasi goreng dua porsi atau ucapan terimakasih muach muach :-*(tm), sebenarnya melalui kemampuan orang lain untuk bercerita kepada Anda, keranjang-keranjang sampah di luar sana, mereka sudah menunjukkan apresiasinya terhadap Anda.

Jelas, tidak semua orang bisa jadi tempat sampah yang baik.

Yang jelas, urusan curhat-curhatan, ungkapan diri, atau istilah kerennya, self-disclosure, punya tempat tersendiri yang spesial dalam urusan komunikasi.

Lalu, kenapa jadi tempat sampah justru membuktikan bahwa Anda bukan sekadar tempat untuk buang-buang yang tidak penting? Ya, jelas, karena sampah itu berasal dari makhluk kompleks yang bernama manusia, dimana, semua sampah bukan benar-benar sampah (ya iyalah, kalau tidak, mana mungkin psikolog rela menyelam timbul tenggelam dalam sampahan manusia, seperti belajar soal parapraxis, semisal? *ditimpuk Freud* :P). Karena menurut riset, disclosure dipicu oleh hal-hal ini:

– Disclosure increases with increased intimacy
– Disclosure increases when rewarded
– Disclosure increases with the need to reduce uncertainty in a relationship
– Disclosure tends to be reciprocated
– Women tends to disclose more than men
– Women disclose more to individuals they like
– Men disclose more to individuals they trust
– Disclosure is regulated by rules of appropriateness
– Attraction is related to positive disclosures but not to negative disclosure
– Negative disclosure occurs with greater frequency in highly intimate settings than in less intimate ones
– Relationship satisfaction is greatest when there is moderate–rather than a great deal or very little–disclosure.

(*kutip sajalah* Based on summary provided by Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Third ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 1989), p. 161, adapted from Shirley J. Gilbert, “Empirical and Theoretical Extensions of Self-Disclosure,” in Explorations in Interpersonal Communication. Ed. by Gerald R. Miller (Beverly Hills: Sage, 1976), pp. 197-216) -tentu saja, dikutip tanpa izin 😛

Tidak semuanya klop dengan konteks yang Anda alami, tentu. Tapi dari sekelumit gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa disclosure, pengungkapan, bukanlah hal yang main-main. Ada poin-poin seperti ketertarikan, rasa percaya, imbalan, tingkat hubungan, dan lain-lainnya. Anda perlu memenuhi beberapa kriteria untuk dapat menjadi tempat sampah yang pantas untuk orang lain. Apalagi, Anda bisa mengetahui hal-hal paling personal dari orang lain dengan melihat apa isi dari tempat sampahnya. Knowledge is power, lho (asal jangan tiru-tiru Casanova di Kiss The Girls saja :P) Betapapun tidak enaknya jadi tempat penampung keluh kesah, ternyata penghargaannya cukup besar juga, meski tidak selalu terlihat.

*5:17 AM, masih tetap menunggu kantuk sialan yang tidak mau datang juga*

Children Learn What They Live?

23 Apr

If a child lives with criticism
He learns to condemn

If a child lives with hostility
He learns to fight

If a child lives with ridicule
He learns to be shy

If a child lives with shame
He learns to be guilty

If a child lives with tolerance
He learns to be patient

If a child lives with encouragement
He learns confidence

If a child lives with praise
He learns to appreciate

If a child lives with fairness
He learns justice

If a child lives with security
He learns to have faith

If a child lives with approval
He learns to like himself

If a child lives with acceptance and friendship
He learns to find love in the world.

(Dorothy Law Nolte, “Children Learn What They Live,” in Looking Out/Looking In. Ed. by Ron Adler and Neil Towne (San Fransisco: Holt, 1975), p.43) -dikutip tanpa izin dari penulisnya 😛

It’s probably true. It’s probably not very true. But I can’t say that it’s wrong. How we were brought up deeply affects our personality and the possible outcome as we grow older. I do believe in nurture theory. But somewhere, deep down, we always felt that, somehow, a rather big part of what we found in our personality came from something else.

Changes are possible. But what if, for the scientist in all of us, we are what is written in our DNA code, for example. Or for the superstitious, we are our birth dates, constellation of the stars.

Or the explanation is, what we have in our nurture, showed and highlighted some tendencies that we have and sinked the unexplored?

Are my friends mattered? Are my siblings mattered? Are my parents mattered?  Are they taking up a significant part in developing who I am today? Well, they all do. But then, how much?

*4:27AM, iseng menulis sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang menjelang*

Jamie Cullum In Java Jazz Festival 2007

28 Mar

Kata Manda, saya disuruh bikin report soal konsernya Jamie Cullum di JJF kemaren. Tapi, hare gene, males gituloh *nggrundel* Lagian, mau nulis apa ya? *mikir* Duh, udah tiga minggu yang lalu, ingatan saya udah mulai soak nih – -; Ya sudah, seingetnya aja ya. Biasalah, kalau sudah tua suka pikun *sigh*

Jadi, begini ceritanya.. *halah!*

Konsernya, menurut mbak-mbak cantik di ticketbox adalah jam setengah delapan malam. Setelah sampe di JCC, malah dipasang pengumuman bahwa konsernya baru dimulai jam setengah sepuluh. Wanjroy, padahal saya dateng sore-sore gituh.. *keluh* Ya sudah, karena saya kira jadwalnya dimundurkan, setelah selesai nonton David Benoit, kira-kira jam setengah tujuh malam, saya malah santai-santai saja dan pergi keluar cari makan. What I didn’t know, is that they didn’t change the schedule. It was reverted back to the original one :)) Alhasil, saya telat ngantri dan harus berjejal-jejalan di bagian belakang antrian. Setelah pintu dibuka, saya tertawa pasrah karena sampai di dalam hanya bisa dapat tempat di sisi kanan dan jauh dari panggung. Siyal, tau gitu kan ngantri dari tadi :))

My story, is much to sad to be told..

And, WHOA! Setelah Jamie melantunkan satu baris pembuka ini, saya baru sadar kalau saya memang beneran lagi nonton konsernya. It’s a dream coming true, really. Everything felt surreal, but that line just -ZAPP- woke me up. Spontan, saya langsung nyanyi dong :-” (meski nggak se-semangat orang yang nyanyi di belakang saya.. =)) ) Konser dibuka oleh “I Get A Kick Out Of You” dengan suara Jamie yang belom bener 100% (mungkin hasil dari dugem sampe jam 6 pagi kemarennya?)

He brought the usual gang, Geoff Gascoyne, Sebastiaan de Krom, dan, euh, siapa lagi sisanya saya lupa 😛 Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan dari Twentysomething (These Are The Days, What A Difference A Day Made, Twentysomething, I Get A Kick Out Of You, Wind Cries Mary. Frontin’, Everlasting Love). Yang dinyanyikan dari Catching Tales hanya empat lagu (Get Your Way, London Skies, Mind Trick, Photograph), dan satu lagu dari Pointless Nostalgic, “High & Dry” (yang juga bisa ditemukan di Twentysomething Special Edition). Huhuhu, siyalnya, lagu-lagu favorit saya ngga ada yang dinyanyiin. “These Are The Days” saja baru dibawakan terakhir setelah penonton berteriak-teriak “We want more! We want more!” :))

Bukan Jamie namanya kalau nggak merusak piano, so, we get to see Jamie tapping on the Yamaha grand piano, standing on top of it, well, abusing it, in short :)) It was fun. I hoped to get a closer look, or at least one shot of it, but I’m only 5’6″ and my old pocket cam just cant pull the trick. Oh well, at least I could store it in my head 😉

Yang membuat Jamie bisa dengan sukses merebut perhatian anak-anak muda adalah musiknya yang fleksibel. Jamie memang buat saya bukan sebenar-benarnya jazz, but hell, does it matter? It’s jazz for twentysomethings, alrite :-” Karena itu, saat Jamie membawakan medley Sexy Back-nya Justin T dan Don’t Cha-nya Pussycat Dolls (kayaknya ada satu lagu lagi, tapi saya lupa 😛 ) penonton langsung menyambut dengan sangat antusias. “Don’t cha wish your boyfriend was short like me,” lantunnya, memelintirkan lirik. Oh yeah, Jamie, some of us would :))

Sepanjang konser, penonton banyak melakukan sing-along, tapi hanya pada lagu-lagunya yang sudah terkenal. Saya curiga yang nonton konser kebanyakan bukan the-real-Jamie-fan, tapi ya sudahlah, saya menikmati rasanya bisa nyanyi-nyanyi sendirian saat semua orang sepertinya tidak ada yang hapal lirik sih 😛

Konser selesai jam 9:15 dan begitu keluar, saya langsung terkapar karena sakit-sakit kaki. It was a nice show. Worth it lah, dengan early bird tiket 300ribu. Hihihi, kasian deh yang nggak bisa nonton :-”

Kalau ada yang salah dengan report diatas, mohon dimaafkan, karena cuman mengandalkan ingatan yang sudah mulai kabur. Dan bukan, saya bukan grupisnya Jamie. Saya juga ngga peduli soal berita bahwa selama di Jakarta, Jamie kemana-mana ditemenin The A Sisters :)) It’s his own business. I’m just here for the music, Maam 😉

Jamie juga menulis sedikit tentang kunjungannya ke Jakarta di situsnya. Read here.

Oh iya, ini beberapa poto-potonya pas konser:

LUSTRA – Scotty Doesn’t Know

26 Mar

Scotty doesn’t know,
That Fionna and me,
Do it in my van every Sunday.

She tells him she’s in church,
But she doesn’t go,
Still she’s on her knees, and…

Scotty doesn’t know, oh.
Scotty doesn’t know-oh.
So don’t tell Scotty!
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know.
SO DON’T TELL SCOTTY!

Fionna says she’s out shopping,
But she’s under me and I’m not stopping.

Cuz Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know.
So don’t tell Scotty.
Scotty doesn’t knoooooow….
DON’T TELL SCOTTY!

I can’t believe he’s so trusting,
While I’m right behind you thrusting.

Fionna’s got him on the phone,
and she’s trying not to moan.
It’s a three way call,
and he knows nothing.
NOTHING!!!

Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Don’t tell Scotty.
Cuz Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t knoooooow….
SO DON’T TELL SCOTTY!

We’ll put on a show, everyone will go.
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t knoooooow….

The, parking lot, why not?
It’s so cool when you’re on top.
His front lawn, in the snow.
Laughing so hard, cuz…

Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know.

I did her on his birthday.

Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Scotty doesn’t know,
Don’t tell Scotty.
Scotty doesn’t knoooooow….

Scotty will know,
Scotty has to know,
Scotty’s gotta know,
Gonna tell Scotty,
Gonna tell him myself.

Scotty has to know,
Scotty has to know,
Scotty has to,
Scotty has to,
Scotty has to go!

Scotty doesn’t know,
(Don’t tell Scotty)
Scotty doesn’t know,
(Don’t tell Scotty)
Scotty doesn’t know…
Scotty’s gotta go!

PS: Tulisan Jeng Ina membuat saya jadi teringat lagu ini. Yang sudah pernah nonton EuroTrip tidak mungkin tidak tahu. Liriknya kocak dan waktu pertama kali dengar, saya langsung ngakak. Gara-gara dari kemaren ngomongin lagu ini, adik saya langsung bergerak cepat mencari tempat download MP3-nya. Saya nonton EuroTrip dengan adik saya, dan kita langsung suka dengan lagu ini dan liriknya yang tengil. Yang mau download, euh, ntar deh saya upload 😛 Ngga perlu nonton filmnya untuk menikmati lagunya, tapi kalau tau ceritanya, lagunya pasti terasa lebih kocak. Kecuali, kalau Anda kurang suka humor-humor yang kayak gini 😛

Di filmnya, lagu ini dinyanyikan oleh Matt Damon yang di film ini tampil dengan kepala botak dan piercing disana-sini. Not the usual Matt we know 😀 Kalau mau liat klip lagu ini di filmnya, klik disini.

QOTD: Causes and Cruelty

28 Feb

People do cruelest things out of their purest cause..,” begitu kata Kekipo.

QOTD. We have heard, known, witnessed, unbelieveably bad things, done out of a very small and simple reason. Sometimes the reasons are irrational, and they sometimes made the worse impact too. Kalau kata Boromir di Lord of the Rings, “It is a strange fate that we should suffer so much fear and doubt over so small a thing.” Yang kecil dan sederhana memang tidak selalu kecil pula nilainya.

Setelah dicari, kutipan ini tidak terdaftar di Mbah Gugel, jadi, sini, sayah ™-kan buat Kakek.. 😀 *tawarin Kekipo espresso di pagi nan cerah*

Image by Livia Czenki.