Bisa jadi, hari ini akan jadi salah satu momen ulang tahun yang paling saya ingat. Bukan karena ada kejadian luar biasa, atau karena saya mendapat kado yang tidak terduga, tetapi lebih karena pada saat ini, saya bisa menikmati tiap menitnya dalam keadaan benar-benar sadar kalau saya sedang berulang tahun. Keluarga saya memang bukan keluarga yang mengagung-agungkan hari ulang tahun, menganggapnya luar biasa spesial dan butuh perayaan sendiri. Tidak. Kami hanya menganggap ulang tahun sebagai alibi untuk makan-makan dan pergi bersenang-senang. Tidak lebih. Karena hal tersebut juga, saya jadi tidak terlalu menganggap serius hari ulang tahun. Tidak masalah bila banyak teman saya yang salah tanggal, atau lupa sekalipun. Tidak ada kado pun tidak apa-apa. Bahkan saya sendiri hampir saja lupa kalau hari ini saya ulang tahun. Saya kira tanggal 28 itu esok hari (bahkan Dani dan Mum saja mengira kalau hari ini tanggal 27). Untungnya ada yang mengingatkan saya. Hehe..
Saya bangun, mengecek telepon genggam, untuk menemukan bahwa jam menandakan pukul 02:22. Sampai sekarang, saya tetap tidak dapat mengerti arti dibalik sandi itu. Tetapi, mungkin kini di usia saya saat ini, saya harus menerima bahwa angka itu akan menjadi bagian permanen dari hidup saya. Setidaknya selama satu tahun ini.
Banyak hal terjadi di tahun yang lalu. Saya menemukan bahwa ada satu lagi mantan saya yang ternyata sudah menikah. Saya juga menemukan bahwa beberapa teman SMP dan SMA saya sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya anak. Hebat sekali ya. Saya menemukan bahwa orang-orang yang bisa dengan sungguh-sungguh saya anggap sebagai teman dekat, hanyalah mereka yang pernah satu sekolah dengan saya waktu SMP dan SMA. Sisanya yang saya temui saat kuliah dan lain-lainnya, jumlahnya tidak banyak. Saya menemukan bahwa saya sepertinya akan menjadi orang tua yang bawel apabila saya punya anak. Dan sepertinya saya lebih cocok menjadi figur ayah, dibandingkan sebagai figur ibu. Saya menemukan bahwa saya terlalu banyak membaca, dan itu membuat saya pusing. Di tahun itu, saya hanya membeli beberapa buku. Hanya sedikit, dan kebanyakan adalah novelnya Coelho. Saya menjadikan Steve Jobs sebagai pahlawan saya karena tanpa dia, iPod tidak akan pernah ada. Sampai saat ini, iPod dodols yang hanya berkapasitas 30 GB itu saya anggap sebagai harta saya yang paling berharga, kecuali saat saya punya Macbook Pro nantinya. Saya juga menemukan bahwa Pops sepertinya akan senang kalau dibelikan iPod *lihat Pops sedang sibuk dengan MP3 player yang sedang nganggur* Oh ya, akhirnya saya merasakan nikmatnya mempunyai uang 20 juta milik saya sendiri (yang akhirnya habis juga selama satu tahun, soalnya saya boros, dan saya harus membayar ini itu dengan uang sendiri). Dengan uang itu, akhirnya saya bisa membeli telepon genggam milik saya sendiri. W850i itu saat ini dalam keadaan modyar, alias mati suri, mungkin karena terlalu sering dibanting-banting. Saya juga merasakan pertama kalinya menghadapi tagihan telepon seluler sebesar satu juta rupiah. Di tahun itu, saya akhirnya terjebak masuk ID-Gmail, menemukan orang-orang gila yang hebat diluar sana. Suplai tawa saya jadi tidak pernah habis karena milis keparat ini. Thanks, gays. Saya menemukan bahwa ternyata saya cocok hidup di Bandung, setelah lama ngotot bahwa saya lebih suka tinggal di Jakarta. Saya juga menemukan bahwa sofa saya di rumah ternyata sangat multifungsi. Saya juga baru sadar kalau kebebasan tanpa batas lebih mengerikan daripada yang saya kira, dan saya ternyata menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab kepada diri sendiri dan lingkungan bila tidak ada yang mengawasi. Saya menemukan bahwa anak pertama saya terlalu mirip maminya, anak kedua saya terlalu mirip papinya, dan tetangga saya terlalu mirip saya, karena semua teman saya yang datang di hari wisuda mengira kalau kita bersaudara. D’oh! Who’s your daddy? Saya merasakan bagaimana nikmatnya ngakak di bioskop saat nonton The Simpsons. Saya juga frustasi saat menonton DVD The Barbarian Invasion di rumah, karena rasanya seperti menonton hidup saya sendiri. Tidak sepenuhnya sama, tapi banyak yang mirip. Saya menemukan bahwa kebaya dan sepatu hak tinggi adalah alat penyiksaan yang teramat kejam (ha! konspirasi patriarki!). Saya menemukan bahwa naik motor dengan posisi duduk menyamping sangatlah mengerikan (ha! another konspirasi patriarki!). Lebih mengerikan daripada naik Halilintar. Saya juga menemukan bahwa pijat kaki setelah seharian memakai sepatu hak tinggi sangatlah enak, saudara-saudara! Saya menemukan bahwa saya cukup gila karena dengan nekat mengerjakan suckrispi hanya dalam waktu dua minggu. Saya menemukan bahwa saya terlalu pendek untuk jadi penonton konser. Saya juga menemukan bahwa Jamie Cullum benar-benar kecil. Saya menemukan bahwa orang yang saya musuhi bisa tiba-tiba berbalik dan malah jadi menyukai saya. Saya juga menemukan bahwa hal ini bisa membuat saya kabur dengan sukses dan mewanti-wanti diri agar tidak keseringan mengolok-olok sinetron. Those shits really happens in real life, you know. Saya juga menemukan bahwa satu bangku di kereta api bisa ditempati dengan nyaman oleh tiga orang (yang satu merangkap sebagai bantal), satu buah laptop, dan satu tas. Harusnya kami hanya bayar dua tiket untuk tiga orang. Dats rite, brother! Saya juga menemukan bahwa Tiwi cantik sekali saat pakai kebaya *ngakak dengan puwas* Saya menemukan bahwa cucu saya yang pertama benar-benar hidup di kampus, tapi tidak jadi saya kasihani, karena di kampus, ternyata benwitnya berlimpah. Saya menemukan bahwa adik-adik teman saya sudah besar-besar. Beberapa bahkan sudah masuk kuliah. Saya juga baru menemukan bahwa adik saya sebentar lagi akan berusia 17 tahun. Saya kira dia masih 15 tahun *lupa* Saya menemukan bahwa setelah 4 tahun, segala sesuatu di sekitar saya berubah dengan amat drastis, dan anehnya, saya bisa memaklumi hampir semuanya itu. Saya menemukan bahwa lama kelamaan, saya makin melunak pada anak kecil. Mungkin efek dari insting kebapakan saya. Saya menemukan bahwa pawai 17an, eh, 18an, bisa menjadi sebuah pengalaman traumatis. Saya juga menemukan bahwa perjalanan Bandung – Majalengka 4 jam adalah sebuah hoax! Saya juga menemukan bahwa satu hal yang paling saya inginkan pada saat ini, sepertinya tidak akan menjadi milik saya, dan harus saya ikhlaskan untuk dimiliki oleh orang lain *sigh* Katanya, for the greater good. Kalau memang begitu adanya, saya rela.
Saya menemukan bahwa satu tahun ini benar-benar sebuah mad season buat saya, and a year of discovery, too. Things come and go. Some stay, even grow roots. Some remembered. Some forgotten. Some taken for granted. Some had to be let go. And everything changed my world.
Terima kasih kepada mereka semua yang masih ingat bahwa saya berulang tahun di tanggal 28 Agustus. Terima kasih untuk kedua anak saya: DungDung dan Ucrit, juga untuk Ambu Dian, Dyah Haibara, Tomi, Mum, Mala, Debz, Ina, dan sisanya yang mungkin baru akan mengucapkan selamat di malam nanti (sepertinya berlomba-lomba untuk jadi yang terakhir mengucapkan selamat). Terima kasih untuk rekan-rekan di Kampung Gajah: Budi, Ji Peng, Rara, Nenda, Abe, Hendro sayangku, Adis, Prasz, Heri, Joan, Kang Deni, Didik, Oom Awan, nTub, Azil, Aryo, mBu, Oom Andri, dan Jeng Ina. Makasih banyak yah!
Terima kasih juga kepada mereka semua yang tetap nyasar dan mengucapkan selamat di tanggal 24, 25, 26, dan 27. Tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada orang-orang nyasar yang baru mengucapkan selamat di tanggal 29, atau sekalian, tanggal 28 bulan depan. For you, thank you too.
Untuk yang mengucapkan selamat pertama kali hari ini, ..tolong dipakai kaus kakinya ya *kasih pita pink* :-“
Everybody’s got something that they want to sing about, laugh about, cry about, it’s true. For me it’s you.
UPDATE: Thanks to semua orang yang sudah kasih SMS ucapan selamat tapi tidak saya balas. Dan terima kasih untuk semua yang mencoba menelpon, tapi saya reject, hehehe.. Oiya, terima kasih yang sudah nyasar kasih selamat di tanggal 29. Kok banyak yang mikir kalo kemaren itu tanggal 27 ya? Duh.. Untuk Noka, Hilda, Tonggie, Shera, Lele, Regina, Oom Isdah, Diah AS, Ied, dan Tiwi. Thanks, dude. Egimanaya, sayamalasbalasSMStuh. Malesngasihspasipula :-” Dah ah, saya diprotes mulu sama yang punya leptop *bakar tetangga*